KEPRIONLINE.CO.ID, LINGGA – Ketua Himpunan Melayu Raya (Hi-Melaya) Kabupaten Lingga, Zuhardi menyayangkan kritikan dari Aktivis Kemanusiaan, Romo Paskal terhadap Bupati Lingga. Zuhardi menilai kritikan itu tendensius menyudutkan Bupati, Sabtu (10/07/2021).
“Romo Paskal, jangan mentang-mentang saudaramu telah habis kontrak kerja jadi melantur sana sini. Pemberitaan yang diungkapkan dari kemarin kesannya terlalu tendensius ke Bupati, sebetulnya ada apa?” kata Zuhardi dengan berang menanggapi pemberitaan oleh Romo Paskal.
Menurutnya, ini hanya dalam konteks pelaporan saja. Karena dalam kondisi tertentu pemerintah juga merasa tidak nyaman dengan aksi premanisme yang mereka buat, kesannya sudah anarkis. Bukankah sudah jelas sistem pemerintahan itu tidak boleh kalah dengan aksi premanisme.
“Mereka itu sudah salah, dari hal kecil seperti pengrusakan meja dan foto. Ini sudah merupakan tindakan premanisme. Jangan menganggap hal ini sepele, properti tersebut milik negara. Sudah tidak zamannya lagi berbuat demikian. Sangat disayangkan selaku tokoh agama berbicara begitu,” tegas Zuhardi.
Sebagai aktivis, dia juga merasa heran mengapa Romo Paskal terkesan sangat tajam mempolitisir kebijakan pemerintah.
“Itukan terlalu tendensius mengkerdilkan Bupati”, ujar Zuhardi.
Zuhardi menduga ada kepentingan pribadi sehingga Romo Paskal berusaha untuk membela sana sini, seakan-akan menjadi provokatornya.
“Saya heran melihat dia, saya juga aktivis tapi tahu diri. Dia yang duduk di Batam berbicara tentang Lingga hari ini, kan aneh”, ucap Zuhardi.
Hal yang sama juga disampaikan Ketua Persatuan Pemuda Tempatan (Perpat) Kabupaten Lingga, Encek Kusumaridha.
Menurutnya sesama aktivis dia sangat menghormati Romo Paskal, apa lagi dia selaku tokoh agama. Namun demikian, sikap dan tindakan kritikan yang dilemparkan ke Pemerintah Kabupaten Lingga, kesannya hanya menyudutkan pimpinan pemerintah. Padahal keputusan ataupun kebijakan daerah diambil atas keputusan dari hasil-hasil diskusi yang sangat matang. Tentunya hal yang begini bukan justru menjadi polemik.
“Kalau terus menerus menyudutkan Bupati dengan hal-hal sepele, pasti ada kepentingan”, ujar Encek.
“Sebagai aktivis, apalagi aktivis kemanusiaan tentunya punya adab. Bukannya berang lantas merusak aset Negara”, sambungnya.
“Ya, sekecil apapun yang dirusak, itu semua milik negara,” jelas Encek.
(KEPRIONLINE.CO.ID/ BOY)






