Keprionline.co.id, BATAM – Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kota Batam menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale di KdK Cafe, Batam Centre, Kamis (14/5/2026).
Film dokumenter tersebut menyoroti dampak proyek strategis nasional (PSN) di Papua Selatan yang disebut melibatkan pengerahan puluhan ribu aparat keamanan, serta dampaknya terhadap masyarakat adat dan kawasan hutan di Papua.
Kegiatan yang diprakarsai oleh GAMKI Batam ini menghadirkan sejumlah penanggap dalam diskusi, di antaranya Ketua GAMKI Batam Rini Lisbeth Sitio, Ketua Pemuda Katolik Batam Roy Manik, Direktur LBH Mawar Saron Batam Rio Ferdinan Turnip, Ketua PND HKBP Kepri Gomgom Simanjuntak, serta aktivis dan mantan anggota DPRD Batam dan DPRD Kepri, Uba Sigalingging.
Sekretaris GAMKI Batam sekaligus moderator acara, Irfandi Silitonga, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari keresahan bersama sebagai bentuk solidaritas terhadap masyarakat Papua.
“Diskusi ini menjadi ruang refleksi bersama atas berbagai persoalan kemanusiaan, lingkungan hidup, dan hak masyarakat adat yang terjadi di Papua,” ujarnya sebelum pemutaran film.
Dalam sesi diskusi, Ketua GAMKI Batam, Rini Lisbeth Sitio, menyoroti persoalan ketimpangan ekonomi dalam proyek strategis nasional tersebut. Menurutnya, ada perusahaan-perusahaan besar yang memperoleh konsesi lahan luas dan meraup keuntungan besar, sementara masyarakat adat justru mengalami penderitaan.
“Ini menjadi pola yang sering terjadi di kalangan elite. Mereka berpesta di atas penderitaan masyarakat adat Papua,” ujar Rini.
Sementara itu, Direktur LBH Mawar Saron Batam, Rio Ferdinan Turnip, menekankan pentingnya negara menjamin hak dasar masyarakat sebagaimana diatur dalam Pasal 11 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
“Setiap orang berhak atas pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara layak. Negara harus hadir memperhatikan hak-hak dasar masyarakat di Papua,” katanya.
Ketua Plt Pemuda Katolik Komcab Batam, Roy Manik, menyampaikan bahwa perhatian terhadap isu Papua dan kelestarian lingkungan sejalan dengan ajaran sosial Gereja Katolik dalam Ensiklik Laudato Si’ yang diterbitkan oleh Paus Fransiskus.
Menurut Roy, bumi harus dipandang sebagai “rumah bersama” yang wajib dirawat dan dilindungi. Ia menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh mengabaikan martabat manusia, keberlanjutan lingkungan hidup, dan hak masyarakat adat.
“Persoalan lingkungan, masyarakat adat, dan kemanusiaan di Papua tidak dapat dipisahkan satu sama lain,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Uba Sigalingging menyampaikan apresiasinya kepada GAMKI Batam atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai film Pesta Babi menggambarkan bagaimana kekuasaan dan modal berkolusi hingga merusak alam serta meminggirkan masyarakat adat.
“Kita menyaksikan penghancuran peradaban dan hilangnya rasa hormat terhadap alam dan manusia,” katanya.
Uba juga mengutip pesan tokoh Afrika Selatan Desmond Tutu yang menyatakan, “Jika Anda bersikap netral dalam situasi ketidakadilan, Anda telah memilih pihak penindas.”
Dalam pemaparannya, Uba menjelaskan tiga perspektif utama terkait krisis ekologi dan keadilan sosial yang diangkat dalam film tersebut, yakni Teologi Pembebasan, teori metabolic rift dari Karl Marx, serta gagasan Naomi Klein tentang kapitalisme dan krisis iklim.
Ia menegaskan bahwa krisis ekologi bukan sekadar persoalan teknis, melainkan persoalan politik dan sistemik yang membutuhkan perubahan struktural.
“Keberpihakan terhadap masyarakat tertindas dan perlindungan terhadap lingkungan hidup harus berjalan bersamaan,” tegasnya.
Diskusi berlangsung interaktif dan diikuti sejumlah peserta dari berbagai organisasi kepemudaan dan komunitas di Kota Batam.
- TEOLOGI PEMBEBASAN “Jeritan Orang Miskin dan Jeritan Bumi” Masalah: Sistem ekstraktivisme & neoliberalisme menindas orang miskin dan merusak alam sekaligus. Akar Ide: Bumi adalah Pachamama / ciptaan Tuhan. Punya martabat, bukan cuma sumber daya. Solusi:
* Ekonomi solidaritas, agroforestri, perlindungan masyarakat adat
* Perubahan struktural + pertobatan ekologi
* Opsi preferensial untuk yang paling rentan Tokoh: Leonardo Boff, Ivone Gebara, Paus Fransiskus Rujukan: Ensiklik Laudato Si’ 2015, Sinode Amazon 2019 Kata Kunci: Keadilan sosial-ekologi, dosa struktural, perawatan rumah bersama
- KARL MARX – METABOLIC RIFT “Kapitalisme Memutus Siklus Alam” Masalah: Kapitalisme memisahkan manusia dari tanah dan merusak metabolisme material alam demi akumulasi modal. Akar Ide: Logika pertumbuhan tanpa batas bertabrakan dengan kemampuan alam untuk regenerasi. Biaya kerusakan dibuang sebagai eksternalitas. Solusi:
* Kontrol demokratis atas produksi & sumber daya alam
* Rekoneksi produsen dengan tanah
* Produksi untuk kebutuhan manusia, bukan profit Tokoh: Karl Marx, John Bellamy Foster Rujukan: Capital Vol. 1, konsep metabolic rift Kata Kunci: Metabolisme sosial-alam, keterasingan, eksternalitas
- NAOMI KLEIN “Kapitalisme vs Iklim” Masalah: Neoliberalisme deregulasikan butuh pertumbuhan tak terbatas. Itu bertentangan dengan batas planet. Akar Ide: Solusi pasar seperti pasar karbon & greenwash gagal. Yang terjadi justru ekstraksi ekstrem. Solusi:
* Gerakan sosial massal “Blockadia” untuk blokir proyek fosil
* Transisi ke energi terbarukan & ekonomi regeneratif lokal
* Keadilan iklim global Tokoh: Naomi Klein Rujukan: This Changes Everything: Capitalism vs. the Climate 2014 Kata Kunci: Blockadia, extractivism, disaster capitalism
BENANG MERAH
- Krisis ekologi bukan masalah teknis, tapi politik dan sistemik.
- Keadilan untuk manusia dan keadilan untuk alam tidak bisa dipisah.
- Solusi butuh perubahan struktural, bukan cuma perubahan gaya hidup individu. (Oky)






