Keprionline.co.id, Lingga – Miris. Kata-kata itu mungkin tepat diucapkan saat melihat kondisi rumah dinas guru Sekolah SDN 032 Senayang Ujung Kayu Desa Mamut Kecamatan Senayang Kabupaten Lingga, Kepri. Kondisinya sudah tidak layak huni akibat rusak parah dimakan usia. Bahkan nyaris roboh.
Kondisi rusak disana-sini akibat dimakan usia pada bangunan itu pastilah menimbulkan ketidaknyamanan bagi penghuninya, juga pada mata yang memandang.Terlihat atap pelafon yang sudah bolong-bolong, kusen jendela yang sudah lapuk dimakan usia hingga kaca jendela yang bolong dan harus ditutupi dengan karton pengganti kaca menjadi pemandangan yang menyedihkan untuk dilihat.
Kerusakan juga diperparah dengan atap berbahan seng yang sudah karatan dan ditimpa batang pohon mangga yang melandai ke atap, menambah miris pemandangan.
Kondisi itu pun tidak jauh berbeda dengan lantai bangunan yang sudah terlihat hancur baik di bagian dalam rumah maupun diluar rumah.
Kepala Sekolah (Kepsek) SDN 032 Senayang Ujung kayu, Roni Hadiarman, S.Pd yang di hubungi oleh awak media ini, membenarkan kondisi miris rumah dinas guru SDN 032 senayang tersebut.
“Memang agak sedikit rusak pelafon dan atap bangunan, di karenakan ada pohan mangga milik warga yang melandai di bangunan tersebut,” kata Roni, Senin (28/08/2023).
Roni pun mengakui kalau dirinya sudah melaporkan kondisi itu kedinas pendidikan terkait bangunan rumah dinas guru tersebut, bahkan laporan itu didukung dengan bukti foto kondisi bangunan.
“Sudah saya laporkan ke dinas pendidikan bagian Sapras (sarana dan prasarana -red) untuk diusulkan di rehab, tapi kalau rehab kecil seperti toilet sudah kita renovasi,” ungkapnya.
Siswa hanya berjumlah 8 orang.
Kondisi miris pada bangunan rumah guru rupanya tidak jauh berbeda dengan kondisi siswa di SDN 032 tersebut. Dimana hingga tahun 2023 ini murid yang menempuh pendidikan di sekolah tersebut hanya berjumlah 8 siswa.
Bahkan untuk tahun ajaran baru, SDN 032 Senayan itu hanya 1 orang murid yang mendaftar.
“Di SDN 032 senayang ujung kayu ini jumlah siswa/siswinya hanya 8 orang, dari kelas 1 s/d kelas 6, sedangkan pengajar ada 7 orang guru termasuk kepala sekolah,” jelas Roni.
Roni menjelaskan kalau jumlah murid yang sangat minim itu disebabkan kondisional daerah itu, karena kalaupun ada warga di daerah tersebut yang menikah biasanya akan dibawa suaminya keluar dari ujung kayu, sehingga yang tinggal hanya para orangtua lanjut usia.
“Diujung kayu ini jumlah Kepala Keluarga sekitar 32 KK saja,” katanya
“Waktu saya pertama kali menjabat kepala sekolah tahun 2022, siswanya malah hanya 5 orang saja,” tambahnya
Sementara itu, terkait rumah dinas guru yang memprihatinkan, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lingga H. Armia mengaku sudah meninjau ke lokasi dan akan di rehab pada tahun 2024 nanti.
“Ye kite sudah turun mudah-mudahan 2024,” jawab H. Armia singkat. (boy)






