KEPRIONLINE.CO.ID, SOSOK – Guru merupakan sosok seorang pahlawan yang jasanya tidak bisa dibilang kecil. Banyak sekali pengorbanan yang telah mereka berikan agar anak didiknya bisa merdeka dari kebodohan, dari penjajahan buta huruf, dari kekejaman buta angka, dari kebejatan gagap berbicara.
Dalam pendidikan sosok guru tentunya tidak bisa dipisahkan apalagi sampai dihilangkan. Karena proses pendidikan itu yang paling terpenting adalah adanya murid atau yang diajari dan sosok guru atau fasilitator yang mentransfer ilmunya.
Kualitas seorang guru menentukan kualitas murid itu sendiri. Untuk mencetak seorang guru yang berkualitas tidak semudah membalikan telapak tangan, tidak segampang mengedipkan kedua mata.
Seorang Pendidik seharusnya sosok yang harus dipanut yang digugu dan ditiru dari setiap prilakunya. Digenggaman tangannyalah generasi muda dititipkan untuk menimba Ilmu menjadi insan yang menjunjung tinggi moralitas dan martabat kemanusiaan.
Guru itu harus bisa menjadi teladan dan contoh bagi anak didiknya. Guru menjadi contoh dalam segala aktifitas kehidupannya, tindak tanduknya, prestasinya, sampai gaya kepemimpinannya. Jadi menjadi guru bukanlah profesi yang mudah untuk dilakukan.
Kita yang ingin menjadi sosok seorang guru di masa depan harus berusaha dari sekarang untuk membiasakan melakukan hal-hal yang mencerminkan perilaku seorang guru yang baik. Beberapa sifat harus dimiliki oleh kita. Diantaranya sifat sabar, pengertian, perhatian, tidak mudah marah dan memahami psikologi peserta didik. Melalui beberapa sifat tersebut diharapkan kita menjadi sosok guru yang ideal dan menjadi guru yang selalu dirindukan keberadaannya oleh peserta didik dan bukan malah menjadi bencana ketika kita datang mengajar.
Jangan tanyakan bagaimana lelahnya mereka mengajar siswa SD yang baru kenal dengan tulis dan huruf tak sebanding dengan gaji yang diperoleh seorang guru karena apa yang telah mereka lakukan. Dedikasi dan jasa guru tak dapat di ukur dan di balas dalam upaya mencerdaskan generasi muda,mereka akan selalu terukir sekalipun napas sudah berpisah dari raga.
Menjadi guru, selain merupakan sebuah profesi yang mulia juga bisa menjadi ladang amal yang pahalanya akan terus mengalir selama ilmu yang diajarkannya itu terus dimanfaatkan. Selama ilmu yang telah dia ajarkan kepada seseorang itu diamalkan maka selama itu pula pahalanya mengalir.
Namun dewasa ini pandangan terhadap figure mulia guru mulai luntur. Apalagi di masa Pandemi Covid-19, Karena sosok guru bukan lagi ada di muka kelas tapi ada di muka layar maya HP android. Hal ini harus dilakukan untuk kelangsungan pembelajaran agar para generasi kita tidak terpuruk karena kondisi Pandemi ini. Guru pun seolah berada dekat tapi jauh untuk di jangkau. Sebelum masa Pandemi seorang guru dalam melakukan menjalankan tugasnya pun sering dibayangi berbagai ancaman mulai dari yang ringan sampai dengan jeruji besi, tapi tetap mereka lalui dengan senyuman.
Kondisi sekarang sangat berbeda dengan masa lalu. Sekarang guru hanya ada di dunia maya, selanjutnya orang tualah yang berperan mengajar dan mendidik generasi muda di rumahnya, Orang tua di paksa harus dapat membimbing serta mengajari generasinya untuk dapat menyelesaikan pembelajaran yang sudah di transfer guru melalui group WA ataupun menyelesaikan tugas yang dikirim guru.
Disini bukan lagi guru yang harus sabar menghadapi siswa tapi orang tua di ajarkan bagaimana sabarnya seorang guru menghadapi generasi nyata seimbang dengan apa yang telah mereka hargai selama ini untuk seorang yang bernama guru. Di masa lalu, tindakan guru menegur murid merupakan bagian dari bentuk perhatian guru. Tak heran, guru zaman dulu sangat berwibawa di mata siswa dan masyarakat. Bayangkan, jika guru sudah menatap siswa dengan tatapan diam, maka siswa pun akan dengan segera menyadari kesalahannya. Sekarang orang tua merasakan apa yang dulu guru rasakan mendidik dan mentransfer ilmu sangatlah sulit tanpa di bekali dengan Ilmu mendidik .Tak ada yang melapor atau menuduh guru telah melakukan pelanggaran HAM.
Guru di Zaman sekarang dianggap sebagai “mesin” akademik saja, bukan sebagai sosok yang harus diteladani, disayangi, dan dihormati di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Tidak
mengherankan, banyak kasus perlakuan murid yang tak layak kepada guru telah membawa akibat runtuhnya moralitas kaum muda.
Kita patut belajar memuliakan seorang guru dari negeri Jepang. Ketika bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945, Kaisar Hirohito memerintahkan Menteri Pendidikan menghitung jumlah guru yang masih hidup. Para guru dikumpulkan dan diberikan tugas berat untuk membangun Jepang menjadi bangsa yang unggul.
Memuliakan seorang guru adalah langkah nyata yang harus dilakukan semua anggota masyarakat. Tak hanya tanggung jawab lingkungan sekolah atau pemerintah. Bersama anggota masyarakat mari kita tanamkan nilai agama dan etika, lingkungan, dan media massa pun harus menyaring dalam memberikan tontonan serta informasi. Karena secara langsung maupun tidak langsung hal-hal tersebut membentuk watak seorang siswa yang sedang proses pencarian jati diri. Selain itu, mari kita bangun komunikasi yang baik antara siswa dan guru,guru dan orang tua. Jangan sampai dunia pendidikan Indonesia tercoreng dengan ungkapan “guru sibuk mengajar, sedangkan siswa asyik menghajar.”
Salam Guru Hebat
(Sukri, S.Pd.SD)






