KEPRIONLINE.CO.ID, KEPRI ~ Pertumbuhan ekonomi Kepri di tahun 2017 sangat memprihatinkan. Hal itu disampaikan oleh Kepala BPS Provinsi Kepri Panusunan Siregar dalam acara Sosialisasi Indikator Makro Ekonomi dan Statistik Sektoral Bagi Wartawan dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Provinsi Kepulauan Riau dalam rangka memperingati Hari Statistik Nasional (HSN) 2017 di ruang serba guna BPS Kepri, ( 26/09/ ).
“Dengan capaian pertumbuhan ekonomi Kepri pada semester I/2017 yang hanya 1,52%, maka target pertumbuhan ekonomi Kepri sebesar 5,85% nampaknya tidak mungkin bisa lagi dicapai,” tuturnya.
Masih nenurut Panusunan Siregar,Pertumbuhan ekonomi di tahun 2017 adalah yang terendah selama 6 tahun terakhir dan bahkan sepanjang sejarah Kepri menjadi sebuah provinsi.
“Pertumbuhan tahun ini yang paling rendah dalam sejarah Kepri. Bahkan secara nasional Kepri berada pada posisi ke 33 dari 34 provinsi. Kita hanya berada di atas Provinsi Nusa Tenggara Barat yang berada pada posisi terakhir,” tambahnya.
Rendahnya pertumbuhan ekonomi Kepri Triwulan II/2017 disebabkan oleh menurunnya pertumbuhan 3 sektor utama yaitu sektor industri pengolahan yang turun 0,44 % dengan peran sebesar 36,62%, sektor konstruksi turun 0,06% dengan peran 17,70%, dan sektor pertambangan/penggalian turun 4,32 % dengan peran 14,36%. Secara total share ketiga sektor tersebut mencapai 68,68%.
Panusunan juga mengatakan bahwa melemahnya ekonomi Batam secara langsung berdampak pada melemahnya ekonomi Kepri secara keseluruhan.
“Tren pertumbuhan ekonomi Batam yang sedang lesu berimbas pada ekonomi Kepri secara keseluruhan. Hal ini berarti ada korelasi diantara keduanya. Ini terjadi karena hampir 69% investasi Kepri ada di Batam dan 31 % sisanya untuk kabupaten/kota lainnya. Jadi tidak mengherankan bila kondisi perekonomian Batam “sakit”, maka perekomomian Kepri akan terimbas sakit,” katanya.
Sementara daya serap total belanja APBD pada semester I/2017 masih relatif rendah yaitu 32,79%. Hal ini berdampak pada menurunnya konsumsi pemerintah pada periode yang sama yaitu -6,18%. Hal ini sangat disayangkan mengingat Daya Serap APBD ini diharapkan dapat menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi.
Data yang BPS miliki ini diharap dapat dijakikan acuan pengambilan kebijakan dalam upaya memperbaiki pertumbuhan ekonomi Kepri.
“Dengan semua data yang kita punya, Pemprov perlu merevisi target Pertumbuhan Ekonomi 2017 ke angka yang lebih “achievable”, mungkin pada kisaran 2-3 %. Dari target baru itu perlu dibuat skenario pertumbuhan masing-masing sektor/kategori untuk triwulan III, IV sebagai panduan/patokan untuk bergerak. Berdasarkan target baru tersebut, semua OPD fokus untuk mewujudkannya,” pungkasnya. (KEPRIONLINE TANJUNG PINANG/GIBSON MANURUNG)





