KEPRIONLINE,CO,ID,BATAM – Seperti terjadi di seluruh Indonesia malah di seluruh dunia, pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi atau pertumbuhan negatif. Barangkali timbul pertanyaan, bagaimana pertumbuhan ekonomi Batam bila dibandingkan Kepri atau Indonesia atau malah dunia.
Dari data yang didapati dari BPS, BPS Kepri dan BPS Batam. Pertumbuhan ekonomi tahun 2020:
– Dunia = -4,30
– Indonesia = -2,07
– Kepri = -3,80
– Batam = -2,55
Melihat dari data tersebut pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih baik dari pertumbuhan ekonomi dunia yg menyusut sampai -4,30%. Pertumbuhan ekonomi Batam lebih kecil dari Indonesia, tetapi lebih besar dari Pertumbuhan Ekonomi Kepri.
Sedangkan ekonomi Batam mempunyai kontribusi 70% utk Ekonomi Kepri, artinya pertumbuhan ekonomi di luar Batam jauh lebih kecil atau pertumbuhan negatif jauh lebih negatif dari Batam.
Pertanyaan selanjutnya, kenapa pertumbuhan ekonomi Batam lebih kecil dari pertumbuhan ekonomi nasional.
Penyebabnya Batam sangat terdampak dengan sangat berkurangnya kunjungan wisatawan Manca Negara (wisman) ke Batam. Hal serupa dengan Bali yang sangat terdampak, karena turunnya secara drastis wisman ke Bali. Pertumbuhan ekonomi Bali tahun 2020 adalah -9,32 jauh lebih terkontraksi dari Batam. Bali adalah provinsi paling besar kunjungan wisman di Indonesia sebelum pandemi, DKI Jakarta posisi nomor 2 terbesar.
Sedangkan urutan ke 3 ditempati Batam terbanyak kunjungan wisman sebelum pandemi melanda dunia. Memang hampir semua sektor merosot dengan adanya dampak covid 19, sektor perdagangan misalnya, lockdownnnya negara-negara asal barang impor, membuat pengiriman barang terganggu, perdagangan juga terganggu. Banyak industri juga terganggu produksinya.
Namun yang sangat significan adalah turun drastisnya kunjungan wisman ke Batam. Kalau pada tahun 2019 jumlah wisman yg berkunjung ke Batam melebihi 1.900.000 wisman. Tetapi anjlok drastis pada tahun 2020 hanya sekitar 300.000 wisman yg datang ke batam. Malah mulai dari bulan April 2020 sampai dgn akhir tahun 2020, turis yg datang ke batam hampir tidak ada.
Sesuai dengan pengamatan selama ini, rata-rata setiap wisman yg berkunjung ke Batam membelanjakan uang sekitar Rp 7,6 juta per wisman, maka berkurangnya 1,6 juta wisman, Batam kehilangan pemasukan sekitar Rp 13 T. Suatu jumlah yg cukup besar, sekitar 4x apbd kota batam.
Ini hampir sama dgn kejadian pada semester 1 tahun 2017, pada saat itu pertumbuhan ekonomi Batam anjlok sampai 1,04%, dikarenakan ada sekitar 250 ribu pekerja shipyard yang di phk dan sekitar seratus lebih industri shipyard mati suri atau tidak beroperasi, karena turunnya harga minyak dunia dari US$ 100- an menjadi US$ 30-an per barrel. Menyebabkan turunnya pemesanan pembuatan kapal pada shipyard2 Batam. Pada saat itu ada sekitar Rp 11 Trilun pemasukan kota batam yg hilang. Juga sekitar 4x apbd kota batam pada saat itu.
Turun drastisnya wisman ke Batam, dikarenakan pandemi yg melanda dunia, negara2 asal wisman, terutama Singapore dan Malaysia, melakukan lockdown sehingga hampir tidak ada warga mereka yg berpergian ke luar negeri. Dalam hal ini pemerintah Kota Batam, tak bisa berbuat banyak.
Sangatlah mengada-ada, kalau ada yg berpendapat anjloknya ekonomi kota batam, dikarenakan tidak efektifnya jabatan ex-officio walikota Batam sebagai Kepala BP Batam.
Kita harapkan pandemi ini cepat berlalu, dan wisman kembali datang ke batam, bisa meningkat melebihi 2 juta wisman.
Sehingga pertumbuhan ekonomi di Batam bisa mencapai 7% atau malah lebih, seperti yg kita dambakan bersama. Semoga. (*)
Penulis : Ir. Wirya Putra Sar Silalahi
– Wakil Ketua Ikatan Alumni ITB Peovinsi Kepri
– Dewan Pertimbangan Himpuna Pengembang Perumahan Rakyat (Himpera) Kota Batam
-Anggota DPRD Provinsi Kepri






