KEPRIONLINE.CO.ID, NASIONAL – Sidang lanjutan kasus pembunuhan berencana Brigadir J dengan agenda mendengarkan keterangan saksi sangat mengejutkan.
Ada sekitar 5 saksi yang akan dimintai keterangan terkait kasus pembunuhan Brigadir J yang terjadi di perumahan Duren Tiga, Jakarta Selatan.
Salah satu saksi yang dimintai keterangan oleh Ketua Majelis Hakim, Wahyu Iman Santosa yakni Sopir ambulans Ahmad Syahrul Ramadhan yang bekerja di PT Bintang Medika mengungkapkan sederet fakta tentang kondisi jenazah Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.
Syahrul pada saat itu diminta untuk menjemput jenazah Brigadir J di rumah dinas mantan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri Ferdy Sambo, ia pun merasa heran, karena biasanya dia selalu diminta untuk menjemput orang sakit namun kali ini berbeda, mayat yang akan dibawanya.
Awalnya mendapat perintah dari kantornya menjemput di salah satu lokasi yang belum diketahui pukul 19.08 WIB. Kemudian, masuk pesan WhatsApp (WA) ke telepon selulernya.
”Ada yang menelpon dari orang tidak dikenal membutuhkan layanan ambulans,” tutur Syahrul dalam sidang tersebut.
Pada saat menerima telepon dari nomor tak dikenal, Syahrul biasa saja, karena memang biasa dia menerima telepon dari nomor yang tak dikenal.
Namun yang membuat dia curiga, pada saat dia diminta untuk bawa jenazah dari rumah dinas tersebut.
”Dibilang rasa curiga ada Yang Mulia. Kalau dari rasa kecurigaan saya pribadi, saya sudah menginsting kalau ada kejadian kematian,” katanya dalam siding itu.
Lanjut lagi Syahrul menceritakan kronologinya, pada saat tiba di rumah dinas itu ada mayat Brigadir J tergeletak dengan berlumuran darah menggunakan kaos Putih dan wajah yang ditutupin masker berwarna hitam.
Saat mau mengangkat mayat itu, ia melihat ada luka tembak di dada kiri Brigadir J, dikarenakan dada nya bolong.
“Tahu dari mana luka tembak?” tanya hakim.
“Ada bolongan di dada sebelah kiri kalau tidak salah Yang Mulia,” jawab Syahrul
Menurut Syahrul, posisi Yosua dalam keadaan telentang dengan kaus yang sedikit terbuka.
“Masih pakai baju putih,” ujar Syahrul. “Telentang, Yang Mulia,” imbuhnya.
“Jenazah sudah di kantong?” tanya hakim.
“Belum. Masih tergeletak berlumuran darah yang mulia,” jawab Syahrul.
Foto Yosua sempat ditunjukkan di ruang sidang. Posisinya sedang dalam posisi telentang. Sementara di sekitarnya terlihat genangan darah.
“Wajahnya ditutupi masker?” tanya hakim lagi. “Iya,” jawab Syahrul
“Warna hitam seperti ini?” tanya hakim .
“Iya yang mulia,” jawab Syahrul.
Ia juga mengaku sempat disuruh untuk mengecek denyut nadi Brigadir J. Sebelum mengecek, ia pun sempat memakai sarung tangan karet.
Sementara denyut nadi yang diperiksa oleh Syahrul adalah bagian tangan kiri Brigadir J.
Namun denyut nadi Brigadir J disebutnya sudah tidak ada.
“Saya disuruh salah satunya anggota untuk cek nadinya. Saya cek sudah tidak ada nadinya,” ujarnya.
Meski telah dipastikan, Syahrul mengaku beberapa anggota Propam Polri menyuruhnya untuk kembali mengecek denyut nadi Brigadir J.
Hal ini, katanya, dilakukan untuk memastikan Brigadir J masih hidup atau tidak.
“Saya bilang ke bapak-bapak lokasi ‘izin Pak sudah tidak ada’, ‘pasti Mas?’ ‘pasti Pak,” ujar Syahrul.
Bahkan pengecekan pun masih dilakukan oleh beberapa anggota Propam Polri tersebut.
“Lalu dicek kembali (kondisi nadi Yosua) oleh bapak-bapak di lokasi,” jelasnya. (KEPRIONLINE.CO.ID).






