Keprionline.co.id, TANJUNGPINANG – Gubernur Provinsi Ansar Ahmad menerima kunjungan kerja Gubernur Provinsi Emanuel Melkiades Laka Lena di Gedung Daerah, Tanjungpinang, Senin (11/5/2026). Pertemuan tersebut membahas penguatan sinergi antar daerah dalam menjaga stabilitas inflasi, ketahanan pangan, hingga studi banding Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Nusa Tenggara Timur ke Provinsi Kepulauan Riau.
Turut hadir dalam pertemuan itu Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTT Adidoyo Prakoso, Kepala Perwakilan BI Kepri Rony Widijarto, serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah dari kedua provinsi.
Dalam sambutannya, Emanuel Melkiades Laka Lena mengatakan Kepri dan NTT memiliki banyak kesamaan karakteristik wilayah yang dapat menjadi dasar membangun kerja sama konkret di berbagai sektor strategis.
Ia menjelaskan, saat ini NTT memiliki 21 kabupaten dan satu kota dengan kondisi ekonomi yang terus tumbuh dan inflasi yang masih terkendali. Inflasi NTT disebut masih berada di bawah tiga persen dan masuk kategori aman berdasarkan indikator Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keuangan.
Emanuel juga memaparkan pertumbuhan ekonomi NTT tahun 2025 berada di angka 5,14 persen dan meningkat menjadi 5,32 persen pada triwulan I tahun 2026.
Menurutnya, Kota Kupang dan Kabupaten Manggarai Barat masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi di NTT. Namun, pemerintah daerah terus berupaya mendorong lahirnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di seluruh kabupaten dan kota.
Sementara itu, Ansar Ahmad memaparkan sejumlah potensi unggulan yang dimiliki Kepri, mulai dari sektor kelautan dan perikanan, pariwisata, hingga investasi dan pengembangan teknologi digital.
Menurut Ansar, Kepri memiliki wilayah laut seluas 417 ribu kilometer persegi dengan kawasan konservasi perikanan budidaya mencapai 2,9 juta hektare. Potensi hasil tangkapan perikanan Kepri bahkan mencapai 1,3 juta ton dengan komoditas unggulan seperti cumi-cumi, lobster, ikan karang, ikan demersal, hingga udang.
Di sektor pariwisata, Kepri disebut menjadi salah satu dari tiga pintu masuk wisatawan mancanegara terbesar di Indonesia bersama Bali dan DKI Jakarta. Kepri juga aktif mengembangkan konsep cross border tourism bersama Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Ansar turut menyoroti kawasan wisata unggulan Lagoi di Kabupaten Bintan serta potensi wisata halal Pulau Pulau Penyengat yang berhasil meraih penghargaan ADWI 2023 dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI.
Pada sektor investasi, Ansar menjelaskan perkembangan sejumlah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Kepri, termasuk KEK Galang Batang yang bergerak di industri smelter bauksit dengan realisasi investasi mencapai Rp21 triliun hingga akhir 2024.
Selain itu, KEK Batam Nongsa Digital Park juga berkembang menjadi pusat teknologi informasi dan pengembangan kecerdasan buatan yang menghubungkan Indonesia dengan Singapura dan pasar global.
Ansar menambahkan, kondisi ekonomi Kepri saat ini juga menunjukkan tren positif. Inflasi Kepri pada April 2026 tercatat sebesar 3,06 persen. Kepri juga berhasil meraih TPID Award 2024 sebagai TPID provinsi berkinerja terbaik di Sumatera.
Tak hanya itu, pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan I tahun 2026 tercatat mencapai 7,04 persen secara year on-year, menjadikan Kepri sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatera dan peringkat kelima secara nasional.
“Angka kemiskinan Kepri juga terus menurun hingga mencapai 4,26 persen pada September 2025, sekaligus menjadi yang terendah di Sumatera dan peringkat keempat terendah secara nasional,” jelas Ansar.
Ia juga menyampaikan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kepri tahun 2025 mencapai 80,53 dan menjadi yang terbaik di luar Pulau Jawa. Selain itu, Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) Kepri tahun 2025 tercatat sebesar 83,68 poin dan menempatkan Kepri di posisi tiga besar regional Sumatera. (Oky)






