Keprionline.co.id, BATAM – Lembaga Adat Melayu Kepulauan Riau Kota Batam mulai mengambil langkah serius untuk mengembalikan identitas Melayu di ruang publik Kota Batam. Di bawah kepemimpinan Ketua LAM Batam, Raja Haji Muhammad Amin, keresahan terhadap semakin memudarnya nuansa Melayu kini diwujudkan melalui usulan konkret perubahan nama simpang dan bundaran di berbagai wilayah Batam.
Melalui surat resmi bernomor 10/LAM-BATAM/V/2026 tertanggal 8 Mei 2026 yang ditujukan kepada Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, LAM Batam mengusulkan sebanyak 46 nama baru untuk simpang dan bundaran di Kota Batam. Usulan tersebut merupakan hasil finalisasi rapat pleno LAM Batam pada 29 April 2026.
“Sudah saatnya kita memelayukan semua nama tempat, jalan, simpang, bundaran, dan ruang publik lainnya. Ini tentang marwah dan identitas negeri,” tegas Raja Amin.
Dalam usulan tersebut, LAM Batam tidak sekadar mengganti nama, tetapi juga menghadirkan identitas baru yang sarat nilai sejarah Melayu dan jejak Kesultanan Riau-Lingga.
Beberapa nama simpang populer di Batam diusulkan berganti menggunakan nama tokoh besar Melayu. Simpang Frengky misalnya diusulkan berubah menjadi Simpang Opu Daeng Celak. Kemudian Simpang Kara diusulkan menjadi Simpang Raja Idris Bin Raja Haji Fisabilillah.
Sementara Simpang KDA diusulkan memakai nama Simpang Opu Daeng Kamboja, dan Bundaran BP Batam diusulkan menjadi Bundaran Raja Ali Bin Raja Ja’far Yang Dipertuan Muda VIII.
Perhatian khusus juga diberikan pada Simpang Pantek di kawasan Bengkong yang selama ini dikenal masyarakat dengan istilah bernuansa vulgar. LAM Batam mengusulkan nama baru yang dinilai lebih mencerminkan nilai budaya Melayu, yakni Simpang Junjung Budaya.
Selain nama tokoh sejarah, sejumlah nama tanjak warisan Melayu juga diangkat menjadi identitas ruang publik di Batam. Simpang KBC misalnya diusulkan menjadi Simpang Mahkota Alam, sedangkan Simpang Planet Holiday Hotel diusulkan menjadi Simpang Tebing Laksamana.
Nuansa sejarah Melayu juga tampak dalam usulan penamaan Bundaran Sultan Abdul Rahman Muazamsyah II di kawasan Punggur, Bundaran Raja Haji Abdullah di sekitar Asrama Haji, hingga Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan di kawasan Bandara Nongsa.
Tak hanya tokoh sejarah, LAM Batam juga mengusulkan nama sejumlah tokoh Melayu Kepri kontemporer untuk diabadikan menjadi nama simpang. Di antaranya Simpang Dato’ H. Machmur Ismail di kawasan Baloi, Simpang Dato’ H. Imran AZ di kawasan Winsor, hingga Simpang Dato’ H. Nyat Kadir di wilayah Tiban.
Selain itu, guna mengenang jasa mantan Wali Kota Batam yang telah wafat, Simpang Indomobil diusulkan menjadi Simpang H. Raja Usman Deraman dan Simpang Nagoya/Sarinah atau Mandiri HUB Batam diusulkan menjadi Simpang H. Raja Abdul Aziz.
Sebagai langkah implementasi, LAM Batam juga meminta pemerintah memasang plank nama resmi serta menggelar launching terbuka agar nama baru tersebut diketahui masyarakat luas.
Tak hanya itu, LAM Batam bahkan meminta agar nama-nama baru tersebut nantinya disinkronkan dengan platform digital seperti Google Maps untuk memudahkan masyarakat dan wisatawan.Bagi LAM Batam, langkah ini merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara modernisasi kota industri dengan pelestarian jati diri Melayu di Batam.
Pembangunan boleh maju, teknologi boleh berkembang, tetapi jati diri Melayu tidak boleh hilang dari negeri ini,” tutup Raja Amin. (Oky)






