Keprionline.co.id, Nasional – Gelombang duka kembali melanda negeri ini dengan kabar meninggalnya 23 warga di Distrik Amuma, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Kamis (26/10/2023)
Kabarnya, mereka tewas akibat kelaparan yang melanda wilayah tersebut. Namun, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy masih menegaskan bahwa belum ada kepastian bahwa kematian tersebut disebabkan oleh kelaparan.
Dalam konferensi pers yang digelar di Kemenko PMK, Jakarta pada Rabu (25/10/2023), Menko Muhadjir menyampaikan bahwa pihaknya belum bisa memastikan penyebab kematian warga tersebut.
“Jadi kami belum bisa memastikan dia (warga Yahukimo, Papua) memang meninggal kelaparan,” ujarnya.
Hal ini menimbulkan tanda tanya besar terkait sebab-sebab kematian yang menghantui ratusan keluarga di Yahukimo.
Meskipun demikian, Menko Muhadjir berpendapat bahwa belum ada bukti yang memadai untuk menyatakan bahwa kematian tersebut akibat kelaparan.
“Dari penjelasan Bupati Yahukimo, belum ada bukti bahwa mereka yang meninggal akibat kelaparan,” ujar Menko Muhadjir.
Ia melanjutkan dengan menyoroti aspek waktu, di mana rentang kematian puluhan warga tersebut terjadi mulai dari bulan Februari hingga Oktober.
“Artinya tidak ada kaitan, belum ada bukti bahwa itu ada kaitan langsung dengan kelaparan,” tambahnya, menciptakan ambiguitas yang semakin meruncing.
Meskipun Menko Muhadjir menyangkal hubungan langsung antara kematian dan kelaparan, ia tidak menutup mata terhadap krisis pangan yang sedang melanda Distrik Amuma.
Bupati Yahukimo telah menjelaskan bahwa 13 kampung di distrik tersebut tengah mengalami krisis pangan sebagai efek samping dari gagal panen yang dialami. Krisis ini menyebabkan sekitar 15 ribu orang terdampak kelaparan.
“Makanya akan kami pasok (bantuan). Kalau memang betul tadi itu, disebabkan oleh karena kelaparan, ya ini bisa jadi solusi untuk segera kami siapkan bahan pangan yang cukup itu,” ungkap Menko Muhadjir dengan nada prihatin.
Pemerintah berjanji untuk mengirimkan bantuan segera guna mengatasi krisis pangan di wilayah tersebut.
Ketua BNPB, Letjen TNI Suharyanto, telah mengonfirmasi jenis bantuan yang akan dikirimkan.
“Bantuan yang akan dikirimkan berupa beras sebanyak 20 ton, makanan siap saji 10 ribu bungkus, biskuit protein 10 ribu bungkus, serta anggaran operasional sebesar Rp1 miliar,” ucapnya.
Langkah tersebut diharapkan dapat meredam dampak krisis dan memberikan solusi konkret untuk masyarakat yang terdampak.
Ketidakpastian terkait penyebab kematian ini tentu menimbulkan keprihatinan mendalam di kalangan masyarakat. Apakah ini benar-benar akibat kelaparan atau terdapat faktor-faktor lain yang belum terungkap?
Pertanyaan ini menjadi sorotan utama dalam investigasi yang tengah dilakukan oleh pihak berwenang. Di sisi lain, urgensi penanganan krisis pangan tidak bisa diabaikan, dan bantuan yang dijanjikan pemerintah menjadi harapan bagi mereka yang tengah menderita di Yahukimo. (Red)






