KEPRIONLINE.CO.ID, INTERNASIONAL – Sungguh tak biasa apa yang dilakukan oleh kampus ini. Bagaimana tidak, kampus ini menawarkan kelas pornografi, di mana dosen dan mahasiswanya akan nobar film porno sebagai bahan kuliah.
Kampus ini memang bukan di Indonesia, tapi berada di Amerika Serikat. Dilansir dari Sripoku.com, adapun universitas tersebut adalah Westminster College.
Kelas yang terdengar tabu tersebut ditawarkan selama tahun ajaran 2022-2023.
Para mahasiswa bersama dosen akan menonton film porno bersama selama perkuliahan berlangsung.
Uiversitas tersebut menawarkan beberapa mata kuliah tentang pornografi guna menganalisis isu-isu sosial.
Pihak manajemen perguruan tinggi yakin jika mata kuliah pornografi dapat membantu mahasiswa memutuskan apakah mereka ingin terlibat dalam penyelidikan serius terhadap mata pelajaran kontroversional.
Meski begitu, pihak kampus tak luput dari kritik yang diberikan sejumlah pihak. Pasalnya, kelas nobar film porno dalam mata kuliah tersebut dinilai sungguh menjijikkan.
“Kami tidak punya niat untuk mundur dari menawarkan kelas ini.
Pada umumnya, komunitas kampus mendukung kebebasan akademik itu dan komitmen Westminster untuk membicarakan topik yang sulit,” kata kepala pemasaran Westminster College, Sheila Yorkin, Kamis.
Westminster College merupakan perguruan tinggi seni liberal swasta, nirlaba, terakreditasi dan komprehensif di Salt Lake City.
Dosen yang akan mengampu mata kuliah tersebut menerangkan, ia telah mengajar kursus serupa di masa lalu seperti yang dilansir dari Deseret.
“Sejak saya mulai, saya telah mengajar kursus yang berhubungan dengan studi seks.
Sangat menarik bagaimana ini bocor karena tidak pernah bersifat pribadi”, kata Torres.
Rincian kelas pornografi, yakni akan ada pertemuan sebanyak dua kali dalam seminggu. Durasi mata kuliah tersebut, yaitu selama tiga jam dalam kurun waktu empat minggu.
Lebih lanjut, ia membantah bahwa pihak kampus memaksa mahasiswanya mengambil mata kuliah tersebut.
“Anda bisa lulus Westminster College tanpa pernah melihat saya dan kami adalah kampus kecil.
Tidak ada yang dipaksa untuk mengambil kelas apa pun dengan saya”, katanya.
Dilansir dari Tribun Pekanbaru, Torres berujar bahwa komunitas universitas tersebut terdiri dari mahasiswa dan fakultas dengan latar belakang serta sudut pandang yang beragam.
Torres dibesarkan di Gereja Katolik dan berasal dari keluarga konservatif. Ia mengaku sangat menghormati beragam perspektif.
“Kami memiliki banyak siswa yang konservatif dan membayangkan bahwa setiap orang mengajarkan pornografi atau seks kepada siswa kami sebenarnya tidak benar.
Kami memang mengajar cukup banyak mata kuliah yang mencakup studi tentang gender, seks dan seksualitas, tetapi yang pasti kami memiliki orang-orang konservatif di kampus ini yang tidak senang dengan mata kuliah tersebut,” katanya. (SUMBER: TRIBUN-MEDAN.com)






