KEPRIONLINE,CO,ID,BATAM – Cen Sui Lan (CSL) Angota DPR RI dari daerah pemilihan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), sedikit lega dengan progres program pembangunan jembatan Batam-Bintan (Babin). Megaproyek jembatan Babin dengan perkiraan nilai investasi mencapai Rp.8,8 triliun ini, sudah dalam masa tender.
Tahapan tersebut diketahui, setelah Cen Sui Lan mempertanyakan langsung kepada Dirjen Pembiayaan Infrastruktur Kementerian PUPR, Eko Djoeli Heripoerwanto, pada saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi V DPR RI, Senin (1/2).
“Iya benar, pada dokumen Dirjen Pembiayaan Infrastruktur Kementerian PUPR, ada program pembangunan jembatan Batam-Bintan. Ini sudah ready to over, dan masuk dalam masa lelang atau ditenderkan,” ujar Cen Sui Lan yang biasa disapa CSL ini, Selasa (2/2).
Pada saat RDP Komisi V DPR RI dan Dirjen Pembiayaan Infrastruktur Kementerian PUPR dan Dirjen Perumahan PUPR, Senin (1/2) lalu, CSL dari Fraksi Golkar Dapil Kepri ini kembali mempertanyakan dan memastikan tentang jadwal dibangunnya jembatan Babin.
Alhamdulillah, progres pembangunan jembatan Batàm-Bintan ini sudah dijawab dan dijelaskàn oleh Pak Dirjen Pembiayaan Infrastruktur Eko Djoeli Heripoerwanto. Beliau menegaskan, bahwa megaproyek multiyears jémbatan Babin ini, sedang ditenderkan,” tegas legislator Golkar.
Dari penjelasan Dirjen, tambah Cen Sui Lan, untuk pembangunan jembatan Babin, pada saat ini sedang menyiapkan prakualifikasi, pada bulan Februari 2021 ini. Dirjen Pembiayaan Infrastruktur Kementerian PUPR pun baru menerima finalisasi fisibilistudy (studi fisika) dan review basic desain.
Nah, sekarang ini kan masuk dalam tahap tender. Sedangkan pembangunan konstruksi jembatan Batam-Bintan ini, diperkirakan dimulai akhir tahun 2021 ini, atau paling lambat sudah dimulai awal tahun 2022,” terang Cen Sui Lan istri dari H Raja Mustakim ini.
Cen Sui Lan berharap, pengerjaan megaproyek jembatan Batam-Bintan sesuai dengan jadwal tersebut. Sehingga, tiga atau empat tahun ke depan, sudah selesai secara keseluruhan.
“Jembatan Batam-Bintan ini sangat penting dan diperlukan masyarakat Kepri. Terutama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi di kawasan Free Trade Zone (FTZ), Batam-Bintan dan Karimun serta Kota Tanjungpinang,” demikian disampaikan Cen Sui Lan.






