Keprionline.co.id, TANJUNG PINANG – Lonjakan harga avtur berdampak signifikan terhadap mahalnya ongkos penerbangan menuju Natuna. Kondisi ini membuat banyak warga menjerit karena harga tiket pesawat dinilai sudah tidak lagi terjangkau, bahkan setara dengan penghasilan satu bulan.
Pemerintah Kabupaten Natuna pun terus berupaya menghadirkan solusi agar masyarakat tetap bisa menikmati akses transportasi udara dengan harga yang wajar. Bupati Natuna, Cen Sui Lan, menegaskan bahwa masyarakat tidak meminta tiket gratis, melainkan harga yang adil.
“Ini bukan soal mahal. Ini soal keadilan. Warga Natuna merasa terbelenggu di tanahnya sendiri,” ujar Bupati Cen saat bertemu Tim Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan, Sabtu (18/4/2026).
Menurutnya, harga tiket pesawat rute Batam–Natuna saat ini berkisar antara Rp1,5 juta hingga Rp3 juta untuk sekali penerbangan, bahkan bisa lebih tinggi pada periode tertentu. Padahal, waktu tempuh penerbangan hanya sekitar 1,5 jam.
Tingginya biaya transportasi tersebut tidak hanya menyulitkan mobilitas warga, tetapi juga menjadi penghambat investasi dan pertumbuhan ekonomi daerah. Sebagai wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), Natuna memiliki potensi besar di sektor perikanan, pariwisata, dan gas alam.
“Mau keluar daerah saja, ongkos terbang bisa sebulan gaji. Mau masuk investasi, harga tiket jadi penghalang pertama,” kata Bupati Cen, didampingi Wakil Bupati Jarmin.
Keluhan juga datang dari masyarakat. Sejumlah warga mengaku kesulitan menjenguk keluarga maupun memenuhi kebutuhan pendidikan akibat mahalnya tiket. Mereka bahkan merasa “dipisahkan oleh harga” ketimbang jarak geografis.
Selain itu, tingginya biaya transportasi udara turut memicu kenaikan harga kebutuhan pokok. Distribusi barang yang mengandalkan pesawat membuat harga di Natuna menjadi lebih mahal dibanding daerah lain.
Pemerintah daerah pun meminta perhatian serius dari pemerintah pusat. Sejumlah langkah diusulkan, mulai dari subsidi tiket untuk kebutuhan pendidikan dan kesehatan, penetapan tarif batas atas khusus wilayah terluar, hingga pemberian insentif bagi maskapai yang membuka rute dengan harga terjangkau.
Sementara itu, transportasi laut dinilai belum menjadi solusi efektif karena waktu tempuh yang bisa mencapai berhari-hari, sehingga tidak cocok untuk kebutuhan mendesak. Di akhir pertemuan, Bupati Cen kembali menegaskan harapannya agar Natuna mendapat akses transportasi yang layak. “Kami tidak minta mewah. Kami minta dijangkau dengan layak,” ujarnya.
Ia menambahkan, akses transportasi yang terjangkau akan membuka peluang lebih luas di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, layanan kesehatan, hingga investasi, sebagai bagian dari upaya membangun daerah perbatasan. (Oky).






