KEPRIONLINE.CO.ID, NASIONAL – Video perjuangan bidan desa membantu persalinan seorang ibu di tengah laut membuat warga net terharu.
Video tersebut milik akun TikTok @tania_ahmad dan diunggah kembali oleh akun Facebook Mom’s Algy (1/9/2021).
Video ini langsung mencuri perhatian warga net sebab perjuangan ibu melahirkan memang berat apalagi kalau ada masalah yang membuat proses persalinan menjadi sulit.
Hal itulah yang dialami oleh ibu dalam video tersebut. Ibu yang hendak bersalin itu harus dirujuk ke rumah sakit di Kabupaten dengan harus menempuh jalur laut.
Untuk melihat perjuangan mereka, mari putar videonya.
Dalam keterangan dalam video, Tania menuliskan, “Sedikit bercerita tentang pengalaman saya dan teman saya Wanti selama menjadi tenaga kesehatan di daerah terpencil di Banggai Laut. Ada seorang ibu yang terpaksa harus dirujuk ke rumah sakit yang berada di Kabupaten karena ada satu hal dan lain hal yang diharuskan pasien dirujuk untuk keselamatan ibu dan bayi.”
Dia juga menjelaskan keadaan di lokasi dan yang harus dilewati. “Melihat cuaca dan ombak yang lagi musim di daerah kami, sebenarnya berat hati untuk melakukan perjalanan laut dari Kecamatan menuju Kabupaten. Tapi karena takut terjadai hal yang tidak diinginkan, terpaksa pasien memang harus dirujuk. Sebelum berangkat kami berdoa semoga tidak turun hujan, ombak tidak terlalu kencang dan pasien tidak melahirkan dalam perjalanan karena cuaca pada hari itu dari pagi sore hujan deras dan ombak lagi ganas-ganasnya. Setelah sore, hujan berhenti dan keadaan ombak mulai tenang, pasien langsung dirujuk,” tulisnya.
Diawal video tampak beberapa warga membantu mengangkat ranjang pasien yang diatasnya ada si ibu hendak dirujuk itu yang kemudian dinaikkan ke perahu.
“Kami menggunakan perahu kecil ini untuk melakukan rujukan ke Kabupaten,” tulis Tania dalam video itu, yang merperlihatkan awal keberangkatan mereka menggunkan perahu.
Di dalam video tersebut, Tania juga bercerita keadaan perjalanan mereka yang di tengah laut. “Sekitar kurang lebih 40 menit perjalanan kami di tengah laut, apa yang dipikirkan kami benar terjadi. Qadarullah… Pasien melahirkan di tengah laut dengan suasana ombak yang kurang bersahabat.”
Pada menit 1 detik 32 video tersebut, Bidan Wanti tampak sibuk dan tidak panik membantu persalinan ibu tersebut di atas perahu di tengah laut.
“Pada saat itu juga Bidan Wanti langsung melakukan tindakan dengan tenang dan mencoba untuk tidak panik. Alhamdulilah, ibu dan bayi selamat,” ungkap Tania dalam video itu.
Fakta Perjuangan Bidan Desa Bantu Persalinan Seorang Ibu di Tengah Laut
Berikut fakta di lapangan perjuangan bidan desa bantu persalinan seorang ibu di tengah Laut yang dikutip media Keprionline dari Tempo.co:
Awhanty Pangas merupakan bidan yang bekerja di Puskesmas Lantiobung, Kecamatan Bangkurung, Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah. Ia menjadi bidan yang membantu persalinan seorang ibu hamil di atas perahu pada Rabu, 21 Juli 2021 lalu.
Proses persalinan terjadi di perahu yang akan menuju ke Rumah Sakit Banggai. Pasien tersebut, Sumarti Sawali, 42 tahun yang datang ke puskesmas pada Rabu pagi, harus dirujuk kerumah sakit karena mengalami risiko tinggi. “Pasien dirujuk karena tekanan darahnya tinggi,” kata Antania.
Perjalanan dari puskesmas ke Rumah Sakit Banggai hanya bisa dilalui dengan jalur laut yang memakan waktu dua jam perjalanan dengan menggunakan perahu. “Sebelumnya, pasien tersebut datang pagi dan segera dirujuk (ke Rumah Sakit Banggai), karena sedang musim hujan dan musim ombak, jadi ditunggu dulu hingga hujan reda dan ombak tidak kencang,” ujarnya.
Bidan Awhanty mengatakan, “Saya sudah terbiasa menangani pasien melahirkan. Cuma memang agak sedikit panik karena di atas perahu. Belum lagi ombak.” Ketika itu, Pasien tersebut melahirkan ketika perahu baru berjalan 30 menit.
Dengan keadaan tersebut, pasien beserta rombongan—7 orang termasuk pasien, kerabat pasien, tenaga medis, dan pemilik perahu—berangkat menuju ke rumah sakit pukul 16.30. Tantangan tidak berhenti disitu saja, menurut Antania, kondisi di perahu cukup menegangkan, mengingat keadaan ombak yang masih bergelombang. Dan, 30 menit terapung di lautan, Sumarti melahirkan bayi laki-laki.
“Pas ibunya bilang bayinya sudah mau keluar, jadi teman saya yang bidan langsung ambil tindakan di tengah laut. Dan kapal juga jalan terus waktu pas melahirkan itu karena bergelombang. Itu kapalnya miring kanan, miring kiri,” ujar Antania ketika Awhanty memutuskan untuk melakukan persalinan di atas perahu.
Lebih lanjut, terkait peralatan medis yang dibawa ketika perjalanan, awalnya hanya untuk berjaga-jaga apabila terjadi proses persalinan di perjalanan. Namun, persalinan tidak bisa ditunda dan berbekal alat medis seadanya, persalinan tersebut berjalan lancar dan suara ombak menyatu dengan suara tangisan bayi. “Alhamdulillah, ibu dan bayi selamat. Salut sama semua bidan,” tulis Antania di kanal Facebook pribadinya.
(KEPRIONLINE.CO.ID/ Odie Sigiro)






