Keprionline.co.id, Batam – Menteri Investasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mendampingi Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) bertemu empat CEO besar asal Cina untuk melakukan investasi dibeberapa wilayah yang ada di Indonesia, salah satunya di wiayah Pulau Rempang, Batam.
Pertemuan ini membahas kerjasama antara Investor asal China dengan Indonesia terkait Pembangunan ekosistem hilirisasi kaca di Rempang, Batam, Kepulauan Riau, senilai US$ 11,7 miliar atau setara 175,2 Triliun Rupiah.
Investasi dan pembangunan kawasan industri di Rempang tersebut, menurut Bahlil, dapat menyerap banyak tenaga kerja di Indonesia.
“Proyek pembangunan di Pulau Rempang ini memakai tenaga kerja kurang lebih sekitar 35 ribu orang “, ujar Bahlil.
Bahlil menyatakan sebelumnya Presiden Jokowi telah menginstruksikan agar jajaran menteri segera menindaklanjuti agar komitmen investasi dari Cina dapat terealisasi.
Bahlil menegaskan, proses investasi harus berjalan, maka relokasi warga dari lokasi yang akan dibangun pabrik kaca juga tetap jalan dengan tetap menghargai apa yang menjadi hak-hak masyarakat tempatan.
”Warga akan mendapat rumah tipe 45 dengan tanah total sekitar 200 hektare”, ujar Bahlil.
Terkait lokasi relokasi warga Rempang yang terdampak pembangunan perusahaan asal Tiongkok tersebut, Bahlil menyebutkan, warga akan dipindahkan ke lokasi yang sudah disiapkan oleh BP Batam.
”Kebetulan saya bukan warga Batam. Nanti tanya bapak BP Batam. Tadi saya sudah ke sana melihat lokasinya. Kurang hapal saya namanya tadi. Kalau di Papua saya bisa hapal kampung apa,” terangnya.
Ia menjelaskan, relokasi terpaksa dilakukan agar investasi tetap berjalan di Kota Batam. Karena jika tidak, maka investasi ini akan lari ke negara lain.
”Investasi ini penting agar Kepri tidak dianggap provinsi nomor sekian dalam realisasi investasi. Maka harus berjiwa besar semua. Harus cari win-win semua,” jelas Bahlil.
Ia menargetkan groundbreaking pembangunan pabrik kaca nomor dua di dunia setelah Tiongkok dan nomor satu di dunia di luar Tiongkok ini ditargetkan bisa terealisasi tahun ini.
”Untuk itu, semua harus dibersihkan dan dipersiapkan untuk mendorong percepatan investasi di kawasan tersebut,” imbuhnya.
Sementara itu, Rudi menjelaskan, BP Batam sudah menyiapkan kaveling seluas 200 meter persegi dengan rumah tipe 45 sebanyak 3.000 unit di tempat relokasi. Selain itu, BP Batam juga akan melengkapi fasum dan fasos, serta area kantor pemerintahan.
”Seperti yang dikatakan Pak Menteri, kita akan upayakan solusi terbaik,” ujar Rudi. (Gordon)






