Minggu, 26 Juli 2026
Penyebar Informasi Tanpa Batas
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • BATAM
  • KARIMUN
  • KEPRI TANJUNGPINANG
  • BINTAN
  • PASANG IKLAN
  • Pedoman Media Siber
Penyebar Informasi Tanpa Batas
  • BATAM
  • KARIMUN
  • KEPRI TANJUNGPINANG
  • BINTAN
  • PASANG IKLAN
  • Pedoman Media Siber
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Penyebar Informasi Tanpa Batas
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
HOME BATAM KARIMUN KEPRI TANJUNGPINANG BINTAN PASANG IKLAN Pedoman Media Siber
Home SERBA - SERBI

5 Hal yang Mampu Mengakhiri Pandemi Mematikan yang Terjadi di Masa Lampau

kepri online
5 Agustus 2021
di SERBA - SERBI
0
5 Hal yang Mampu Mengakhiri Pandemi Mematikan yang Terjadi di Masa Lampau

Pandemi di Masa Lalu. ©Nicolas Poussin, 1631, Louvre Museum, Paris

Bagikan di FacebookBagikan di WhatsappBagikan di Twitter

KEPRIONLINE.CO.ID, SERBA-SERBI – Sudah lebih dari setahun ini, pandemi COVID-19 telah menyerang seluruh dunia. Pandemi merupakan sebutan yang digunakan ketika sebuah penyakit sudah menyebar pada sejumlah bagian di dunia.

Dalam sejarah, tercatat pernah terjadi beberapa kali persebaran penyakit yang pada akhirnya menjadi pandemi. Semakin maju peradaban kita, semakin kerap terjadinya pandemi ini.

Baca Juga

Bus Pariwisata Rombongan Jemaat Gereja Terguling di Pantai Melur Barelang, Diduga Akibat Rem Blong

Ansar dan BPKP Kepri Satu Visi, Wujudkan Pemerintahan Transparan dan Akuntabel

20 Juni 2026
11
Dugaan Selingkuh, Selegram Ayu Aulia Berkicau di Ulang Tahun Bupati Bintan

Dugaan Selingkuh, Selegram Ayu Aulia Berkicau di Ulang Tahun Bupati Bintan

3 Juni 2026
46

Pada sejumlah pandemi yang terjadi di masa lalu, banyak korban jiwa yang terkena wabah ini. Walau sejumlah penyakit yang pernah terjadi ini tidak hilang hingga saat ini, namun tetap terdapat sejumlah cara yang dilakukan untuk mengendalikan dan mengakhiri pandemi ini.

Perkembangan penyakit infeksi yang menyebar ini tumbuh seiring perkembangan peradaban manusia. Masalah kebersihan yang terjadi di masa lalu merupakan penyebab dari banyak masalah kesehatan.

Berkembangnya transportasi seperti yang ada di saat ini juga merupakan penyebab menyebarnya virus atau penyakit ke wilayah lain. Sejumlah pandemi di masa lalu bisa berakhir karena berbagai cara yang diupayakan.

Berbagai cara yang mengakhiri pandemi di masa lalu ini juga masih bisa digunakan dan diterapkan pada masa kini. Dilansir dari History, berikut sejumlah cara yang bisa mengakhiri pandemi yang terjadi di masa lalu.

1. Berakhir dengan Sendirinya pada Wabah Justinian

Waban Justinian merupakan salah satu pandemi paling awal di dunia dan juga paling mematikan. Hal ini disebabkan oleh bakteri bernama Yersinia pestis, infeksi mematikan yang terjadi di Konstatinopel pada tahun 541.

Penyakit ini dibawa melalui Laut Tengah dari Mesir yang baru saja ditaklukkan oleh Kaisar Justinianus. Kutu penyebab wabah ini menempel pada tikus yang memakan gandum hingga akhirnya menyebar secara mematikan.

Pandemi ini tercatat terjadi di Eropa, Asia, Afrika Utara, dan di Semenajung Arab. Setidaknya 30 hingga 50 juta nyawa meninggal dunia, atau sekitar setengah dari populasi dunia di masa itu.

“Banyak orang tidak tahu cara untuk mengatasinya kecuali menghindari orang yang sedang sakit,” terang Thomas Mockaitis, profesor bidang sejarah dari DePaul University.

“Terkait bagaimana wabah ini berakhir, diperkirakan bahwa sebagian besar orang selamat saat pandemi dan mereka yang bertahan hidup tersebut akhirnya memiliki kekebalan tubuh,” sambungnya.

2. Karantina pada Wabah Hitam

©http://supotnitskiy.ru/stat/stat8.htm

Wabah Justinian yang terjadi sesungguhnya tak pernah usai dan kemudian kembali 800 tahun kemudian pada 1347. Wabah pes yang diberi nama sebagai Wabah Hitam ini menyerang Eropa dan memakan 200 juta nyawa dalam waktu hanya 4 tahun.

Mockaitis mengatakan bahwa masyarakat pada saat itu masih belum memahami bagaimana cara untuk mengakhiri pandemi ini. Namun mereka tahu bahwa jarak dengan orang lain adalah kunci dalam mengatasinya.

Isolasi dan karantina terutama pada orang yang baru datang mulai dilakukan. Pada awalnya isolasi dilakukan selama 30 hari hingga kemudian menjadi 40 hari atau quarantino dalam bahasa Italia yang menjadi asal kata dari karantina. Cara inu cumpuk berdampak dalam menekan penyebaran penyakit mematikan tersebut.

3. Isolasi Orang yang Sakit pada Wabah Besar London

Usai wabah hitam, hampir setiap 10 tahun sekali sejak 1348 hingga 1665, London mengalami wabah terus-menerus. Dari rentetan wabah yang terjadi tersebut, setidaknya 20 persen penduduk London menjadi korban.

Pada awal 1500-an, Inggris mulai menerbitkan hukum untuk memisahkan dan mengisolasi orang yang sakit. Selain itu, pada keluarga orang yang sakit, mereka diharuskan untuk membawa tongkat putih saat berada di tempat umum.

Kucing dan anjing yang dipercaya menjadi penyebab terjadinya penyakit juga dimusnahkan. Wabah paling mematikan diketahui terjadi pada tahun 1665 dengan total 100.000 korban jiwa hanya dalam 7 bulan.

4. Penemuan Vaksin pada Cacar

Sealama berabad-abad, cacar merupakan endemi di Eropa, Asia, dan Jazirah Arab. Penyakit ini membunuh setidaknya 30 persen dari orang yang terinfeksi dan meninggalkan bekas.

Walau sudah sangat mematikan, namun cacar semakin mematikan ketika penyakit tersebut dibawa oleh penjelajah Eropa pertama ke wilayah seperti benua Amerika. Pasalnya, penduduk wilayah tersebut tidak memiliki kekebalan tubuh sama sekali terhadap penyakit tersebut sehingga mereka sangat rentan ketika terserang.

“Dalam sejarah manusia, tidak ada yang lebih mematikan dibanding yang terjadi di Amerika ketika 90 hingga 95 persen warga pribumi meninggal dalam jangka waktu satu abad,” terang Mockaitis.

Seabad kemudian, cacar menjadi epidemi virus pertama yang berhasil diakhiri melalui vaksin. Pada abad ke-18, seorang dokter asal Inggris bernama Edward Jenner menemukan vaksin yang mampu melawan cacar. Temuan medis ini sangat berharga dalam mencegah terjadinya dampak mematikan dari vaksin di kemudian hari.

5. Peningkatan Kesadaran Kesehatan Masyarakat pada Kolera

Pada pertengahan abad ke-19, kolera muncul di Inggris dan membunuh sekitar sepuluh ribu penduduk. Penemuan dari seorang dokter asal Inggris bernama John Snow mengetahui bahwa penyakit ini menyebar melalui air yang ada di London.

“Setelah saya mulai terbiasa dengan situasi dan sejauh mana dampak dari kolera ini, saya menyadari bahwa sejumlah kontaminasi air dari pompa yang berada di jalanan Broad Street,” tulis Snow.

Temuan dari Snow ini tidak serta-merta menghapus kolera namun menyadarkan banyak orang terkait perlunya kebersihan di area perkotaan serta menjaga air dari terjadinya kontaminasi. Kebersihan dan kesadaran masyarakat yang lebih baik ini mampu menghilangkan wabah kolera dari sejumlah negara walau pada beberapa negara lain risiko masalah ini masih ada.

(Sumber: merdeka.com)

 

Tags: CacarCovid 19InfeksiKoleraPandemiPenyakitPenyakit MenularSejarah PandemiSejarah penyakit menularWabahWabah besar LondonWabah HitamWabah Justinian
Sebelumnya

Ariel Tatum Mengaku Pernah Diajak Kencan Semalam dengan Honor Fantastis, Wow

Berikutnya

Demokrat: Dulu Jokowi dan PDIP Tolak Pembelian Pesawat Kepresidenan

Berita Terkait

Bus Pariwisata Rombongan Jemaat Gereja Terguling di Pantai Melur Barelang, Diduga Akibat Rem Blong
SERBA - SERBI

Ansar dan BPKP Kepri Satu Visi, Wujudkan Pemerintahan Transparan dan Akuntabel

20 Juni 2026
11
Dugaan Selingkuh, Selegram Ayu Aulia Berkicau di Ulang Tahun Bupati Bintan
SERBA - SERBI

Dugaan Selingkuh, Selegram Ayu Aulia Berkicau di Ulang Tahun Bupati Bintan

3 Juni 2026
46
GAMKI Batam Gelar Nobar dan Diskusi Film Pesta Babi, Soroti Keadilan Ekologi dan Nasib Masyarakat Adat Papua
BATAM

GAMKI Batam Gelar Nobar dan Diskusi Film Pesta Babi, Soroti Keadilan Ekologi dan Nasib Masyarakat Adat Papua

17 Mei 2026
48

TV KEPRIONLINE

https://www.youtube.com/watch?v=RmUtzkMvAog

Berita Populer

  • TNI AL Gagalkan Penyeludupan Pasir Timah Seberat 1,9 Ton, Lima  Orang Diamankan

    TNI AL Gagalkan Penyeludupan Pasir Timah Seberat 1,9 Ton, Lima Orang Diamankan

    0 dibagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • BPK Temukan Realisasi Belanja ASN di 14 OPD Karimun Tidak Sesuai Ketentuan

    0 dibagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Carolein Parewang Terdakwa Kasus Penggelapan Mobil Rental Pukul Ponsel Wartawan

    0 dibagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Ini Fitnah, PT MPK Diminta Membuktikan Dugaan Pemerasan yang Dilakukan Oleh Kadishub Karimun

    0 dibagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Bupati Karimun Harap Proyek FPSO Bahtera Haluan Lestari Serap Ribuan Tenaga Kerja Lokal

    0 dibagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Beredar Video Workshop PT VME di Terjang Angin Puting Beliung

    0 dibagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Viral ! Videon Bidan PNS Mesum di Dalam Mobil 

    0 dibagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Perjuangan Seorang Ibu Sampai ke Mahkamah Agung, Berharap Negara Buka Mata Berikan Keadilan

    0 dibagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kecam Tindakan Intimidasi terhadap Wartawan di Pengadilan, PWI Kepri Desak Evaluasi SOP Pengawalan Tahanan

    0 dibagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Akibat Candu Film Dewasa, Suami Terkejut Saat Nonton Video Syur, Pemeran Wanitanya Tak Asing

    0 dibagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Penyebar Informasi Tanpa Batas

Alamat Redaksi :

Jln. Raja Oesman Kel Harjosari
Kecamatan Tebing, Kabupaten Karimun
Provinsi Kepulauan Riau
Telepon : 0777 7363866

Hubungi Kami :

PT.EMWIL SERIBU LINTAS MEDIA
info@keprionline.co.id

  • #14456 (tanpa judul)
  • Disclaimer
  • PASANG IKLAN
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
  • Susunan Redaksi keprioline.co.id
  • Tentang Kami
  • Terms-and Conditions

© 2020 Kepri Online - PT.EMWIL SERIBU LINTAS MEDIA - All Right Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • #14456 (tanpa judul)
  • Disclaimer
  • PASANG IKLAN
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
  • Susunan Redaksi keprioline.co.id
  • Tentang Kami
  • Terms-and Conditions

© 2020 Kepri Online - PT.EMWIL SERIBU LINTAS MEDIA - All Right Reserved.