KEPRIONLINE.CO.ID, INTERNASIONAL – Pasangan suami istri yang keduanya bekerja ini tidak pernah menyangka perawat bayi (baby sitter) yang sangat dipercayai mereka bakal memperlakukan bayi kembarnya dengan sadis hingga tidak sadarkan diri.
Pasalnya pasutri Mitesh dan Shivani Patel mempercayakan pengasuhan bayi kembarnya; Nirvaan dan Nirmaan, pada sang istri sahabatnya, Komalben Tandlekar.
Mitesh bekerja sebagai guru pelatihan jasmani dan Shivani adalah seorang profesor di perguruan tinggi Industrial Training Institute Surat, Gujarat, India.
Istri Mitesh, Shivani Patel melahirnya anak kembar: Nirvaan dan Nirmaan, sekitar delapan bulan yang lalu, Mei 2021.
Saat lahir, berat Nirvaan dan Nirmaan hanya sekitar 700-800 gram, jauh di bawah berat bayi normal 2,5 kg hingga 4,5 kg.
Keduanya dimasukkan ke inkubator selama dua bulan, sebelum diizinkan pulang ke rumah orang tua mereka.
Karena Mitesh dan Shivani Patel bekerja, mereka memutuskan mempekerjakan pengasuh bayi sejak September 2021.
Shivani Patel bekerja antara pukul 10.30 hingga 12.30, sehingga babysitter akan merawat bayi kembar Nirvaan dan Nirmaan antara pukul 8 pagi hingga 1 siang.
Ibu Mitesh, Kalaben, sebenarnya tinggal di sebelah rumah anaknya.
Tapi Kalaben juga merupakan pekerja sosial dan sering sibuk.
Keluarga Mitesh dan Shivani Patel memilih Komalben Tandlekar sebagai pengasuh Nirvaan dan Nirmaan, karena dikenal keluarga dan merupakan istri teman Mitesh.
“Mitesh menceritakan sedang mencari baby sitter pada Ravibhai. Lalu Ravibhai menyarankan agar istrinya bisa merawat bayi, karena keluarga membutuhkan uang,” kata Shivani Patel.
Menurut Amit Patel, kakak laki-laki Mitesh, keluarga Patel membayar Komalben Tandlekar Rs 3.500 atau setara Rp 670 ribu per bulan untuk jasanya.
“Kami memercayainya karena dia istri teman suami saya, dan antara September dan Desember, ketika saya menyelesaikan cuti hamil, dia berperilaku baik,” kata Shivani Patel.
Namun 4 Februari 2022, Komalben Tandlekar menelepon Shivani Patel yang sedang bekrja, mengabarkan Nirvaan tidak sadarkan diri.
Nirvaan dilarikan ke rumah sakit, dan betapa terkejutnya keluarga mendengar penjelasan dokter Rumah Sakit Anand Surat.
Rumah Sakit Anand Surat merupakan rumah sakit khusus bayi dan anak-anak, tempat Nirvaan dan Nirmaan, dirawat setelah kelahiran prematur.
Nirvaan mengalami pendarahan otak dan cedera internal otak yang diduga akibat perlukuan kasar sang baby sitter.
Dokter Pratik Shah, spesialis perawatan ICU anak yang juga merawat Nirvaan, mengatakan bayi itu “stabil, tetapi kritis”.
“Ketika anak itu dirawat, kondisinya sangat buruk, karena dia menderita cedera otak bagian dalam. Detak jantung dan tekanan darahnya tidak teratur dan karenanya dia memakai ventilator, ” kata Shah.
Nirvaan harus menggunakan ventilator dan juga dibius dokter.
Ketika diperiksa dengan CT scan, dokter mengatakan otak kiri dan kanan Nirvaan menunjukkan pendarahan internal.
Tapi hasil MRI pada 7 Februari mengungkapkan cedera sekunder pada lapisan otak, yang belum terdeteksi saat jalani CT scan.
“Cedera sekunder terjadi karena keterlambatan membawa bayi ke rumah sakit,” kata Shah.
Akhirnya pihak keluarga mengadukan kebrutalan pengasuh bayi Komalben Tandlekar ke polisi setempat.
Ternyata 20 hari sebelum kejadian ini terungkap, keluarga Mitesh dan Shivani Patel sudah memasang CCTV dalam rumah tanpa sepengetahuan pengasuh bayi Komalben Tandlekar.
Pemasangan CCTV ini dilakukan setelah para tetangga memberitahu mereka mendengar tangisan bayi saat dirawat baby sitter.
“Tetangga memberi tahu saya bahwa bayi itu sering menangis, saya memberi tahu anak saya bahwa kami perlu memantau rumah. Awalnya, Mitesh tidak mendengarkan saya, karena mempercayainya (pengasuhnya). Tapi akhirnya Mitesh memasang CCTV atas desakan saya,” kata Kalaben.
Berbekal rekaman CCTV, kini Komalben Tandlekar mendekam dipenjara.
Menurut Polwan Desai yang menangani kasus tersebut, kebrutalan Komalben Tandlekar pada Nirvaan diduga akibat rasa frustrasi pelaku karena tidak memiliki anak sendiri.
Pelaku sudah enam tahun menikah, tapi belum dikarunia anak.
“Ada rasa frustrasi dalam perilaku pelaku. Mungkin tekanan sosial, karena dia tidak punya anak meski sudah enam tahun menikah,” ujar Polwan Desai.
Polwan Desai mengatakan ibu mertua pelaku sering mengejeknya karena belum punya anak. Polisi menyatakan tersangka tidak memiliki catatan kriminal sebelumnya.
“Penting bagi orangtua yang akan merekrut baby sitter memeriksa latar belakang calon pengasuh bayinya. Kalau tidak bisa sendiri, hubungi polisi,” kata Polwan Desai. (SUMBER: Tribun-Medan.com).






