Tercemar NDMA,BPOM Kepri Tarik Obat Raniditin Dari Pasaran

 

KEPRIONLINE.CO.ID, Batam – Sebagai bentuk pencegahan sekaligus menghindari hal yang tak diinginkan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kepri bersama tim terkait melakukan pemantauan sekaligus penarikan obat Raniditin bersama distributor terkait di wilayah kerjanya.

Kepala BPOM Kepri Yosef Dwi Irwan menegaskan, Raniditin yang merupakan obat bagi gejala penyakit tukak lambung dan tukak usus, harus ditarik dari pasaran. Dimana penarikan ini dilakukan karena obat tersebut diduga tercemar N-Nitrosodimethylamine (NDMA).

Penarikan obat yang mengandung raditin disampaikan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sebagaimana disampaikan melalui portal resmi BPOM, https://www.pom.go.id/ .

“Saat ini, tim kita masih dilapangan dan melakukan pemantauan obat tersebut di sejumlah tempat. Dan ini semua sesuai dengan arahan dari BPOM pusat, sekaligus menghindari hal yang tak diinginkan,” jelasnya saat dihubungi IDNNews.id, Selasa (8/10/2019).

Sebagaimana diketahui, proses penarikan dilaksanakan selama 80 hari kerja. Penarikan obat ini dilakukan setelah adanya informasi dari US Food and Drug Administration (US FDA) dan European Medicine Agency (EMA).

Dua lembaga di Amerika, dan Eropa itu, menyebutkan adanya cemaran cemaran NDMA di produk obat yang mengandung ranitidin. Ranitidin tersedia dalam bentuk sediaan tablet, sirup, dan injeksi.

Dan pada tanggal 13 September 2019, US FDA dan EMA mengeluarkan peringatan tentang adanya temuan cemaran NDMA dalam jumlah yang relatif kecil pada sampel produk yang mengandung bahan aktif ranitidin, dimana NDMA merupakan turunan zat Nitrosamin yang dapat terbentuk secara alami.

Studi global memutuskan nilai ambang batas cemaran NDMA yang diperbolehkan adalah 96 ng/hari (acceptable daily intake), bersifat karsinogenik jika dikonsumsi di atas ambang batas secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama.

Baca Juga  Dana ‘Cekak’, KPU Batam Berharap Tidak Ada Kendala Selama Pilwako 2020

BPOM Kepri dan tim gabungan menggeledah 15 Sarana distribusi di Anambas. Dalam temuan tersebut, tim menemukan produk-produk yang tidak layak edar dan kadaluarsa

Hal ini dijadikan dasar oleh Badan POM dalam mengawal keamanan obat yang beredar di Indonesia.

“Dalam rangka kehati-hatian, Badan POM telah menerbitkan Informasi Awal untuk Tenaga Profesional Kesehatan pada tanggal 17 September 2019 terkait Keamanan Produk Ranitidin yang terkontaminasi NDMA,” jelasnya.

Masyarakat yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang terapi pengobatan yang sedang dijalani menggunakan ranitidin, untuk menghubungi dokter atau apoteker.

“Masyarakat dihimbau agar tidak resah menanggapi pemberitaan yang ada, jika masyarakat memerlukan informasi lebih lanjut dapat menghubungi apoteker, dokter dan tenaga kesehatan lainnya,” jelasnya. ( Sumber IDNEWS / FOTO NET ).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *