Keprionline.co.id, Kepri Lingga – Pesisir Desa Kote, Kecamatan Singkep Pesisir, Kabupaten Lingga, mendadak jadi sunyi pada Kamis (8/1/2026).
Seorang remaja bernama Zaki (17) ditemukan meninggal dunia akibat tenggelam di bibir pantai, tak jauh dari rumah tempatnya tinggal. Lokasi kejadian bahkan berada di belakang permukiman warga.
Jasad Zaki ditemukan dalam kondisi tersangkut di ranting pohon Baru-baru yang tumbuh di dekat tembok garis pantai. Pohon itu selama ini berdiri persis di batas antara laut dan daratan, tak jauh dari aktivitas warga sehari-hari.
Penemuan jasad terjadi sekitar pukul 13.00 WIB. Sebelumnya, Zaki dilaporkan tidak berada di rumah. Warga kemudian berinisiatif melakukan pencarian. Sebagian menyusuri daratan, sementara lainnya mencoba peruntungan lewat jalur laut.
Salah seorang warga, Mizi (52), memilih mencari dari laut. Upaya itu akhirnya membuahkan hasil. “Orang-orang cari di darat, saya turun ke laut mencari. Dia (Zaki) sangkut di situ, di ranting pohon Baru-baru. Dia tenggelam,” ujar Mizi sambil menunjukkan lokasi penemuan korban.
Dari keterangan keluarga, Zaki diketahui merupakan penyandang disabilitas dan selama ini bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB).
Dalam keseharian, ia tinggal bersama kakek dan neneknya di rumah yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari pantai. Setelah ditemukan, warga sempat mengevakuasi Zaki dan membawanya ke Puskesmas Lanjut.
Sayangnya, upaya medis tersebut tidak berhasil menyelamatkan nyawanya. Keluarga juga menyebut adanya luka gores di bagian kepala korban. Luka tersebut diduga akibat benturan dengan tembok pantai atau ranting pohon Baru-baru di lokasi kejadian.
“Di kepala Zaki terlihat merah, kena ranting pohon itu mungkin,” ungkap salah satu anggota keluarga. Peristiwa ini terjadi saat kondisi cuaca di perairan Singkep Pesisir sedang tidak bersahabat. Angin bertiup cukup kencang, sementara gelombang laut terpantau lebih tinggi dari biasanya.
Hingga kini, duka masih terasa di tengah warga Desa Kote. Masyarakat setempat juga saling mengingatkan agar lebih waspada terhadap kondisi cuaca ekstrem, terutama bagi keluarga yang tinggal di kawasan pesisir dan memiliki anak-anak yang kerap beraktivitas di sekitar pantai. ( Sumber Harian lingga ).






