Keprionline.co.id, Tanjungpinang – Walikota Tanjungpinang, Lis Darmansyah mengatakan, Kehadiran Sekolah Rakyat di Kepri sangat relevan dengan tantangan geografis provinsi yang memiliki 2.028 pulau, 394 di antaranya berpenghuni, serta berbatasan langsung dengan sejumlah negara tetangga.
“Sekolah Rakyat bukan sekadar gedung, tetapi simbol harapan dan keberpihakan negara. Program ini memberi kesempatan yang setara bagi anak-anak dari keluarga nelayan, pekerja migran, maupun mereka yang pernah putus sekolah. Dari sini kita siapkan generasi emas menuju Indonesia 2045,” ujar Lis kepada media, Rabu ( 1/10/2025).
Selain itu, Program Sekolah Rakyat merupakan inisiatif pemerintah pusat untuk mengurangi angka putus sekolah dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Secara nasional terdapat 165 titik Sekolah Rakyat, dan Kepri mendapat tiga titik yakni di Kota Tanjungpinang, Kabupaten Natuna, dan Kabupaten Kepulauan Anambas.
Pada tahap awal, Sekolah Rakyat Terintegrasi 33 Tanjungpinang menampung 100 siswa yang terdiri atas 50 siswa SD, 25 siswa SMP, dan 25 siswa SMA. Tenaga pendidik berjumlah 19 orang, dengan 6 guru berasal dari Kepri dan 13 lainnya dari luar daerah.
Sebelumnya, pada 29 September 2025, seluruh siswa telah menjalani pemeriksaan kesehatan gratis sebelum memasuki asrama dan mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Sekjen Kemensos Robben Rico secara daring menyebutkan, Kepri menjadi salah satu provinsi di Sumatera yang mendapat alokasi terbanyak pembangunan Sekolah Rakyat permanen.
“Ada tiga lokasi di Kepri yakni di Natuna, Tanjungpinang, dan Anambas. Ini menandakan perhatian besar pemerintah terhadap akses pendidikan di daerah kepulauan,” jelasnya. ( Juanda ).






