Keprionline.co.id, BATAM – Dugaan adanya ratusan warga negara asing (WNA) asal China yang bekerja di kawasan Tunas Prima Kabil, Kota Batam, Kepulauan Riau, mulai mencuat. Informasi ini disampaikan oleh Viktorius, mantan pekerja di kawasan tersebut, yang mengaku mengetahui aktivitas para pekerja asing secara langsung.
Menurut Viktorius, WNA tersebut terkait dengan PT China State Construction Overseas Development Shanghai (PT CSCODS) dan jumlahnya diperkirakan mencapai 300 orang. Selain tenaga ahli, mereka juga bekerja sebagai pekerja lapangan. “Banyak yang tidak memiliki dokumen sah alias salah menggunakan, bisa melancong tapi buat bekerja,” ujarnya.
Viktorius menambahkan, terdapat kantor yang kerap dijadikan tempat berlindung saat ada pemeriksaan, serta Rusun BPJS Kabil yang digunakan para pekerja asing untuk beristirahat. Ia juga menyebut PT Luxure sebagai salah satu perusahaan yang terkait dengan aktivitas tersebut.
Laporan ini kemudian dikonfirmasi ke Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kepulauan Riau, Diky Wijaya. Ia mengatakan bahwa laporan telah diterima dan akan ditindaklanjuti melalui pengecekan langsung ke lokasi. “Kami akan cek langsung di lapangan, In shaa Allah Senin ini,” kata Diky, Rabu (8/4/2026).
Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Imigrasi Kelas I Khusus Batam, Kharisma Rukmana, juga mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan bidang terkait sebelum memberikan keterangan lanjutan.
Sementara itu, pihak perusahaan membantah tudingan tersebut. Daniel Arifin, Human Resources Development PT CSCODS, menegaskan bahwa jumlah WNA yang bekerja di perusahaannya hanya sekitar 10 orang, bukan ratusan, dan seluruhnya memiliki dokumen lengkap. Menurutnya, PT CSCODS hanya menggunakan pekerja spesialis seperti engineer, tenaga konstruksi tertentu, dan arsitek.
Daniel juga menegaskan bahwa hubungan PT CSCODS dengan subkontraktor seperti PT JSI dan Topstar hanya sebatas kerja sama bisnis. “Kami tidak pernah menyembunyikan karyawan ketika petugas datang,” jelasnya.
Bantahan serupa datang dari PT JSI. Seorang manajemen perusahaan, Karen, menolak tudingan tersebut dan tidak memberikan penjelasan lebih lanjut saat diminta klarifikasi.
Di sisi lain, sumber Batamnews menyebut PT Luxsan Precision Indonesia sebagai lokasi yang patut diperiksa karena jumlah pekerja asing di sana diduga mencapai ratusan.
Dengan adanya dua keterangan yang saling berbeda, verifikasi di lapangan menjadi sangat penting untuk memastikan fakta sebenarnya. Jika dugaan itu benar, persoalan ini menandai pengawasan tenaga kerja asing yang belum optimal di kawasan industri Batam. Namun jika tidak terbukti, penjelasan resmi perusahaan dan pemerintah harus disampaikan secara terbuka agar isu tidak berkembang liar.
Masalah ini bukan sekadar jumlah pekerja asing, tetapi juga menyangkut pengawasan, kepatuhan perusahaan, dan nasib tenaga kerja lokal di tengah persaingan kerja di Batam. (Oky).






