Keprionline.co.id, JAKARTA — PT Timah (Persero) Tbk (TINS) mencatat kinerja keuangan yang positif sepanjang tahun 2025 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp1,31 triliun. Capaian ini melampaui target yang ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2025, yakni sebesar 119 persen.
Direktur Utama PT Timah, Restu Widiyantoro, menyampaikan bahwa kinerja tersebut merupakan hasil dari strategi perusahaan dalam memperkuat tata kelola pertimahan serta mengoptimalkan kinerja operasional, pemasaran, dan efisiensi keuangan.
Selain peningkatan laba, perusahaan juga mencatatkan pendapatan sebesar Rp11,55 triliun, tumbuh 6,41 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp10,86 triliun. Laba usaha tercatat sebesar Rp1,91 triliun, sementara EBITDA mencapai Rp2,76 triliun.
Dari sisi neraca, total aset perusahaan meningkat 6,75 persen menjadi Rp13,64 triliun. Liabilitas tercatat sebesar Rp5,23 triliun, naik tipis 0,80 persen, sedangkan ekuitas tumbuh 10,83 persen menjadi Rp8,41 triliun.
Kinerja keuangan yang solid juga tercermin dari rasio keuangan perusahaan, di antaranya current ratio sebesar 242,8 persen, quick ratio 60,6 persen, serta debt to equity ratio (DER) sebesar 18,7 persen.
Sepanjang 2025, PT Timah juga terus melakukan efisiensi biaya melalui penurunan biaya tetap dan pengelolaan utang berbunga, termasuk melalui buyback medium term notes (MTN), guna menekan beban bunga dan menjaga stabilitas arus kas.
Dari sisi operasional, perusahaan mencatat produksi bijih timah sebesar 18.635 ton Sn dan produksi logam timah sebesar 17.815 metrik ton, dengan penjualan mencapai 16.634 metrik ton.
Pasar ekspor masih menjadi kontributor utama dengan porsi mencapai 95 persen dari total penjualan. Negara tujuan utama meliputi Singapura, Korea Selatan, Jepang, Belanda, Italia, dan China. Kontribusi ekspor PT Timah tercatat sekitar 24 persen dari total ekspor timah Indonesia dan sekitar 3 persen dari ekspor timah global.
Dalam operasionalnya, perusahaan terus memperkuat kegiatan penambangan baik di darat maupun laut. Di darat, eksplorasi ditingkatkan melalui penambahan titik tambang dan bor pandu, sementara di laut dilakukan optimalisasi kinerja Kapal Isap Produksi (KIP) serta fasilitas pengolahan.
Memasuki 2026, PT Timah optimistis dapat melanjutkan kinerja positif seiring prospek harga timah yang diperkirakan berada di kisaran USD 33.500 hingga USD 48.750 per ton. Permintaan yang meningkat dari industri elektronik, semikonduktor, chip, serta perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan menjadi faktor pendorong utama.
Selain itu, keterbatasan pasokan global akibat regulasi, konflik, dan pemeliharaan produksi di sejumlah negara turut memperkuat prospek harga timah.
Untuk memanfaatkan peluang tersebut, PT Timah telah menyiapkan sejumlah strategi pada 2026, antara lain akselerasi produksi, optimalisasi cadangan, ekspansi hilirisasi dan diversifikasi produk, transformasi digital berbasis ESG, serta peningkatan efisiensi di seluruh lini bisnis. (Oky).






