Keprionline.co.id, Batam – Sebuah insiden yang diduga melibatkan oknum anggota Denpom kembali terjadi pada Senin sore (24/11/2025) di kawasan Golden Prawn, Batam. Kejadian bermula ketika sekelompok orang yang mengaku membawa surat keputusan (SK) mendatangi lokasi dan berusaha mengambil satu unit mobil Xpander putih yang tercatat atas nama Rafli, pemilik usaha rental mobil.
Menurut sejumlah saksi, pihak yang mengaku oknum Denpom tersebut menyatakan bahwa mobil itu masuk dalam daftar kendaraan terkait dugaan kasus penggelapan oleh seseorang oknum berinisial JS, yang saat ini sedang ditahan di Polisi Militer. Mereka menuding mobil itu sempat digadai kepada seorang bernama Jeffry sebelum berpindah tangan.
Namun Rafli selaku pemilik membantah keras tuduhan tersebut. “Mobil ini dari awal ada di tangan kami, tidak pernah digadai. Kami tidak ada hubungan apa pun dengan pihak Denpom,” tegasnya.
Meski penjelasan telah disampaikan, kelompok tersebut tetap bersikeras meminta kendaraan dibawa ke kantor PM, bahkan duduk mengelilingi mobil guna mencegah pemilik meninggalkan lokasi.
Ketegangan meningkat ketika Rafli mencoba membawa mobilnya pergi. Salah satu oknum diduga memukul kaca mobil saat kendaraan mulai bergerak. Beberapa lainnya juga sempat mengejar mobil, namun upaya tersebut tidak berhasil.
Tak berhenti di situ, setelah mobil berhasil meninggalkan lokasi, terjadi insiden kedua.
Abner, rekan pemilik mobil, dipukul menggunakan botol pada bagian kepala oleh salah satu oknum. Warga sekitar sempat melerai, namun keributan tetap terjadi karena para oknum terus mempertanyakan keberadaan mobil yang mereka maksud.
Pihak pemilik menegaskan bahwa kendaraan tersebut sepenuhnya milik Rafli dan digunakan bersama dalam usaha rental mobil.
“Mobil ini bukan milik orang yang mereka tuduhkan, dan tidak terkait kasus apa pun,” ujar mereka.
Para saksi dan korban menyebut para oknum bertindak layaknya debt collector leasing, memaksa penarikan kendaraan tanpa dasar yang jelas dan disertai tindakan kekerasan.
Atas dugaan pemukulan tersebut, Abner menyatakan akan membuat laporan resmi ke Kantor Polisi Militer terkait tindakan kekerasan dan intimidasi yang dilakukan.
Insiden ini memicu keresahan warga sekitar yang menyaksikan langsung aksi pemaksaan dan kekerasan tersebut, terutama karena melibatkan oknum yang mengatasnamakan aparat. ( Oky).






