Keprionline.co.id, Batam – Lima Etnis Batak yang terdiri dari Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Mandailing atau Angkola di Kota Batam bersama dengan pendiri Ikatan Sosial Kerukunan Batak Nusantara ( ISENABASA) membentuk tim untuk mencari aset Isenabasa.
Perwakilan etnis Batak Toba Ir Wirya Silalahi mengatakan, Paguyuban orang Batak di Kota Batam bernama ISENABASA (Ikatan Sosial Kerukunan Batak Nusantara) berdiri pada Februari 1999. Awalnya merupakan paguyuban Batak dari 5 subetnis Batak: Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Mandailing/ Angkola di Kota Batam.
Paguyuban ini membentuk yayasan yangg diberi nama Yayasan ISENABASA BARELANG, dan atas nama yayasan ini, mendapat sebidang lahan di wilayah Batam Center dgn luas sekitar 35.000 M2 atau 3,5 ha.
Tadinya lahan ini, akan dijadikan gedung serbaguna dan kampung budaya Batak yang mengambarkan ke 6-subetnis Batak ini.
Untuk membayar UWTO dan pembangunan gedung serbaguna ini, sebagian tanah ini dikerjasamakan dengan pihak 3, dan jadilah UWTO ini dilunasi 30 tahun dan membangun gedung serbaguna.
Karena kekurangan dana, gedung terhenti dibangun pada tahun 2012, gedung ini belum selesai, karena kekurangan dana, dan mangkrak sampai saat ini.
Saat ini lahan ini telah di alihkan ke yayasan lain.
Untuk mencari informasi yang sebenarnya mengenai aset ISENABASA tersebut, telah diadakan rapat perwakilan dari 6 subetnis Batak ini bersama beberapa para pendiri ISENABASA, hasil rapat tsb sepakat membentuk TIM PEDULI ISENABASA yang anggotanya ada 6 orang mewakili 6 subetnis Batak: Toba, Angkola, Mandailing, Karo, Simalungun, Pakpak dan 1 seorang sekertaris dimana Tim ini bertugas mencari penyelesaian yg baik, mengenai permasalahan ini, ujar Wirya Sar Silalahi kepada media Senin ( 39/6/2023). ( Gordon) .






