KEPRIONLINE.CO.ID, NASIONAL – Siapa yang tak kenal dengan sosok Seto Mulyadi alias Kak Seto? Pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah tersebut merupakan seorang psikolog anak.
Identik dengan dunia anak-anak yang serba ceria, rupanya ada kisah tersembunyi. Kak Seto pernah diciduk tentara rezim Orde Baru.
Alhasil, Kak Seto pun dibawa ke Kodam Jaya. Simak ulasan selengkapnya berikut ini, melansir dari kanal YouTube MerdekaDotCom, Rabu (26/1).
Kak Seto merupakan alumnus Universitas Indonesia. Namun, ada lika-liku perjalanan dari Kak Seto sebelumnya.
Pria yang kini akrab dengan aktivitas parkour itu pernah mendaftarkan diri di Fakultas Kedokteran. Gagal, ia lantas mendapatkan saran dari Pak Kasur yang cukup dekat dengannya kala itu untuk mencoba peruntungan di Fakultas Psikologi UI.
“Saya daftar di Psikologi UI, Alhamdulillah diterima. Mula-mulanya seperti itu ya, tapi saya juga perlu dinamika karena sambil kerja dan segala macam kemudian juga aktif di kemahasiswaan,” terangnya.
Berhasil menjadi mahasiswa UI tak lantas membuat Kak Seto berdiam diri. Ia justru begitu aktif mengikuti berbagai kegiatan kampus. Hal itu dimulainya dengan menduduki jabatan Ketua Seksi Pengabdian.
“Pada waktu itu, saya dipercaya sebagai Ketua Seksi Pengabdian Masyarakat karena saya sering ajak anak-anak untuk berbagai kegiatan dan sebagainya,” jelasnya.
Hingga suatu momen, Kak Seto terpaksa menggantikan sang ketua organisasi kampus lantaran terciduk tentara. Ia merupakan kandidat kuat karena menjabat sebagai Ketua Bidang Ekstern sebelumnya.
“Itu saya dipercaya menjadi Ketua Bidang Ekstern. Nah kemudian pada tahun 1977 itu banyak yang ditangkap karena aksi-aksi mahasiswa, beberapa di antaranya termasuk ketua ditangkap juga. Wah siapa ini penggantinya, waktu itu didaulat oleh senat menjadi ketua,” ujarnya.
Menjadi ketua organisasi mahasiswa membuat Kak Seto otomatis menjadi lebih aktif mengikuti dinamika kampus hingga nasional. Suatu ketika, pria yang akrab disebut dengan ‘Sang Mentor’ itu berani berorasi di depan banyak mahasiswa untuk mogok kuliah.
“Saya menyatakan, pokoknya mulai sekarang mahasiswa UI mogok kuliah sampai pada waktu yang tidak ditentukan,” ungkapnya.
Hal itu senantiasa ditanggapi gemuruh kompak dari mahasiswa. Sementara pihak kampus justru naik darah melihat kelakuannya.
“Semuanya bersorak, saat itu (TNI) masuk lalu kampus sudah dikuasai. Saya sampai dipanggil rektor sama para dekan, saya dimarahi,” ceritanya.
Berkat hal itu, Kak Seto turut terjaring tentara Orde Baru yang berhasil menguasai seluruh area kampus. Ia bahkan diseret ke Kodam Jaya.
“Gak berapa lama, kita terjaring juga, ke Kasdam atau Kodam Jaya sekarang,” ungkapnya.
Secara langsung, kala itu ia diperiksa langsung oleh Mayjen TNI (Purn.) Eddie Marzuki Nalapraya, sosok jenderal yang merupakan mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta tahun 1984. Tak disangka, sang jenderal rupanya merupakan orangtua dari salah satu muridnya kala itu hingga membuatnya lepas dari sanksi.
“Begitu ketemu saya, beliau bilang, kamu kan gurunya anak saya. Rupanya putri beliau itu murid saya,” ceritanya.
“Ya sudah. Kamu sekarang kembali ke dunia anak-anak. Ini terlalu riskan kalau begini. Kamu bisa kok tetap berjuang tanpa berteriak-teriak, sudah. Antar dia pulang ke rumah,” tirunya. (SUMBER: merdeka.com).






