KEPRIONLINE,CO,ID,BATAM – “Aku adalah aku. Aku bukan kamu, dia, atau mereka”. Sebait kalimat ini mempunyai makna yang luas tentang mengenali diri.
Jadilah apa adanya. Agar kita bisa menghargai apa yang ada. Bukan memaksakan apa yang tidak ada seperti orang lain. Karena kita adalah kita, dan kita bukan mereka.
Orang yang suka meniru-niru orang lain adalah cerminan orang yang tidak memiliki kepribadian tinggi. Dia mudah silau dengan apa yang dia temukan dari luar dirinya. Dia akan selalu terombang-ambing. Setiap muncul mode terbaru, maka setiap kali itu pula gaya hidupnya berubah. Tidak ada konsistensi dalam dirinya.
Tentu lah pribadi macam ini akan sulit menggapai kesuksesan. Sebab, salah satu rumus kesuksesan seseorang, dia harus menjaga kekonsistensiannya di dalam melakukan segala hal. Dalam istilah agama disebut dengan Istiqomah.
Jika kita selama ini berpura-pura menjadi orang lain karena menganggap diri kita banyak kekurangan, hentikan sekarang juga!. Terima kekurangan tersebut sebagai bagian dari diri kita, jangan mengeluh, jangan marah, jangan malu, ingatlah Allah menciptakan kita dengan segala kehendak-Nya. Syukuri dan jalani dengan senyuman maka akan terasa bermakna.
Anda mungkin pernah mendengar lagu ‘Kun Anta’ yang dipopulerkan oleh Humood Alkhudher. Liriknya ‘Kun anta tazdada jamala’. (Jadilah diri sendiri, pasti akan menambah keelokanmu). Dan, ‘Sa akunu ana, mithli tamaman hazana. Fakona a’ti takfini, za ka yaqi ni’ (Aku ingin menjadi diri sendiri, inilah kesempuranaanku. Cukup dengan hal ini, dan aku yakin itu).
Seiring berjalannya waktu, Anda akan meraih kesuksesan, entah itu kesuksesan kecil maupun kesuksesan besar. Syukuri kesuksesan tersebut, dan jangan bandingkan dengan kesuksesan orang lain.
Bayangkan jika Anda selama ini berpura-pura menjadi orang lain karena menganggap diri kita banyak kekurangan dan alhasil tidak dipercaya orang lain. Anda mungkin dicap sebagai pribadi yang jelek. Besar kemungkinan Anda juga akan terkucilkan karena dijauhi teman-teman Anda.
Oleh sebab itu mulai lah menjadi diri sendiri, Hindari berbohong. Mengapa? Karena kebohongan akan meracuni hati, pikiran, dan tindakan Anda.
Meskipun berat, katakan yang sejujurnya (apa adanya). Dengan berkata yang sejujurnya, Anda tidak akan berpura-pura, bermuka dua, atau manipulatif.
Mulai dari sekarang Integritaskan keselarasan antara apa yang Anda ucapkan dengan apa yang Anda lakukan, karena soft skill ini penting akan membuat Anda dipercaya orang lain dalam kehidupan pribadi dan profesional.
Kemudian begitu Anda menjadi diri sendiri, bertanggung jawablah untuk semua tindakan Anda. Sebagai contoh, jika tindakan Anda berujung kesalahan, jangan cuci tangan atau menyalahkan orang lain.
Akuilah kesalahan tersebut merupakan tanggung jawab Anda dan segera perbaiki dengan menggunakan sumber daya yang Anda miliki.
Jadilah diri sendiri, bukan menjadi orang lain, dengan kepura-puraan. Allah telah memberikan potensi besar kepada setiap setiap orang yang bekerja sesuai kodrat dirinya. Jika hal tersebut ditemukan, setiap orang akan menjadi yang terbaik di bidangnya. Dia akan menjadi sang bintang yang bersinar dari bintang yang lainnya atau menjadi sang pohon yang senantiasa berbuah dan memberikan kebaikan dan manfaat bagi orang lain.
Satu tanda keagungan Allah pada diri manusia adalah perbedaan pada diri manusia yang telah menciptakan manusia seindah mungkin dan sesempurna mungkin, bahkan pada diri manusia juga berbeda kemampuan atau potensinya guna meraih segala kesuksesannya kelak di hari esok.
Selain itu, setiap orang juga memiliki peran masing-masing dalam hidup. Ada peran istri ada peran suami. Ada peran sebagai ayah, ibu, anak, dan sebagainya. Masing-masing berjalanlah sesuai dengan peran-peran masing-masing, tidak perlu mempermasalahkan peran orang lain.
Anda punya keahlian khusus, begitu juga dengan orang lain. Tidak perlu minder berhadap, mereka yang terkenal karena kebetulan saja profesinya menuntut supaya dikenal. Bukan berarti mereka lebih baik. Hanya beda profesi saja.
Semakin dewasa, kita akan menyadari bahwa hal yang tersulit untuk dilakukan itu adalah saat harus menjadi diri sendiri. Ada begitu banyak tuntutan dan peran yang harus kita lakoni. Sampai kadang kita lupa bagaimana rasanya bisa menjadi diri sendiri.
Bahkan orang-orang di sekitar kita pun selalu memakai topeng. Ada yang bahkan rela merendahkan diri sendiri demi dapat simpati. Ada yang sampai tega mengorbankan orang lain agar diri ini dipuji. Ada yang sok merasa bisa segalanya padahal tak punya daya atau kemampuan apa-apa.
Sesuai dengan penulisan di atas bahwa menjadi diri sendiri memang melalui suatu proses yang panjang dan tidak dapat kita lalui dengan cara yang instan. Lalu dengan cara apakah kita bisa mengenali diri agar tidak hidup menjadi diri orang lain. Pertama, menerima dengan penuh kerelaan (ikhlas) pemberian yang telah diberikan oleh Allah SWT bahwa semua yang ada ini adalah karunia. Karunia yang baik memang harus dikembangkan, ditumbuhkan untuk nantinya bisa menerima manfaatnya. Semua yang ada pada diri kita ini adalah karunia terbesar yang Allah berikan dan Allah menganggap kita mampu untuk memikulnya.
Dengan menjadi diri sendiri akan membuka peluang kita menjadi pribadi yang bersyukur dan mampu mengenali diri. “Siapa yang mengenal Tuhannya, maka akan mengenal dirinya”. (*/Oki)






