Keprionline.co.id, TANJUNGPINANG – PT TIMAH Tbk terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui berbagai program pemberdayaan. Tak hanya memberikan bantuan dan pendampingan usaha, perusahaan juga membuka ruang bagi mitra binaannya untuk berbagi pengalaman dan keterampilan kepada masyarakat.
Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Program Pelatihan Pengolahan Hasil Laut yang digelar di Rusunawa Lingkungan II, Sungailiat, Kabupaten Bangka, Selasa (23/6/2026). Dalam kegiatan tersebut, PT TIMAH menghadirkan mitra binaannya, Getas Afifah, sebagai narasumber untuk berbagi pengetahuan sekaligus praktik mengolah hasil laut menjadi produk bernilai tambah seperti ampiang dan kericu.
Pelatihan diikuti oleh warga Perumahan Nelayan Lingkungan II, anggota PKK Sungailiat, serta masyarakat dari Perumahan Nelayan Lingkungan I dan II. Kehadiran pelaku UMKM yang telah berhasil mengembangkan usahanya diharapkan mampu memberikan wawasan praktis sekaligus memotivasi peserta untuk mengembangkan usaha serupa.
Getas Afifah sendiri telah menjadi mitra binaan PT TIMAH sejak 2018. Selama delapan tahun mendapatkan pendampingan perusahaan, UMKM tersebut berkembang menjadi salah satu usaha pengolahan hasil laut unggulan di Desa Kurau, Kabupaten Bangka Tengah.
Salah satu pengelola Getas Afifah, Dina Maria, mengatakan Desa Kurau memiliki potensi besar di sektor perikanan yang dapat dikembangkan menjadi berbagai produk olahan bernilai ekonomi. Meski demikian, menurutnya tantangan utama yang dihadapi adalah ketersediaan bahan baku. Pada musim tertentu, pihaknya harus mendatangkan ikan dari Kabupaten Bangka Selatan agar produksi tetap berjalan.
“Sejak menjadi mitra binaan PT TIMAH, kami mendapat bantuan peralatan produksi yang sangat membantu meningkatkan kapasitas usaha. Berkat dukungan tersebut, produksi dan pendapatan kami terus mengalami peningkatan,” ujar Dina. Ia menjelaskan, kapasitas produksi usahanya kini meningkat signifikan, dari semula sekitar satu kilogram per hari menjadi hampir 300 kilogram per hari.
Dina juga mengaku bangga dapat dipercaya menjadi narasumber dalam pelatihan tersebut. Menurutnya, kesempatan itu menjadi ajang untuk berbagi pengalaman sekaligus mendorong masyarakat memanfaatkan potensi hasil laut menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
“Sebagian besar UMKM di Desa Kurau memproduksi produk yang hampir sama. Yang membedakan adalah teknik pengolahan dan cita rasa masing-masing. Karena itu saya senang bisa berbagi pengalaman agar peserta juga dapat mengembangkan usahanya sendiri,” katanya.
Melibatkan mitra binaan sebagai narasumber merupakan salah satu strategi PT TIMAH dalam memperkuat ekosistem pemberdayaan UMKM. Perusahaan tidak hanya membantu pelaku usaha mengembangkan bisnisnya, tetapi juga mendorong mereka menjadi mentor dan inspirasi bagi masyarakat sehingga manfaat program pembinaan dapat dirasakan lebih luas.
Sebelumnya, PT TIMAH juga menerapkan konsep serupa melalui pelatihan batik ecoprint di Kundur, Kabupaten Karimun. Dalam kegiatan tersebut, perusahaan menghadirkan mitra binaannya, Bella Kartika Aprilia, pemilik Batik Sepiak, untuk memperkenalkan teknik pewarnaan alami menggunakan daun kepada para peserta melalui praktik langsung. (Gordon)






