Keprionline.co.id – Batam, Warga mengeluhkan kegiatan cut and fill perbukitan di dekat perumahan Mangsang Permai, Kecamatan Sei Beduk, Batam. Masyarakat menolak pemotongan lahan karena lumpur dan bebatuan sering meluap ke perumahan warga. Meskipun batu miring ada di depan perumahan, namun banjir tak terbendung karena pembangunan batu miring asal jadi dan tidak selesai. Selain itu drainase perumahan tertutup lumpur, sehingga air dan bebatuan turun dari ketinggian yang curam hingga memasuki rumah warga. Ida, warga Mangsang Permai geram karena rumahnya berdampak banjir dan sampai merusak perabotan rumahnya. “Buku-buku dan peralatan rumah tangga saya rusak. Tapi diganti rugi oleh developer pertama,” kata Ida.
Kegiatan cut and fill sempat berhenti dan ekskavator ditarik karena warga menolak. “Sempat ribut dan aparat kepolisian pun turun ke sini,” kata anak Ida. Alasan penolakan warga, pemotongan lahan tersebut telah menimbulkan dampak banjir lumpur dan bebatuan ke perumahan. Selain itu kegiatan pemotongan lahan tersebut tidak ada plang IMB dan izin dari warga setempat.
Diduga penetapan lokasi (PL) oleh BP Batam terlalu dipaksakan dan tidak memperhatikan dampak lingkungan. “Ini kawasan hutan lindung, tapi kok bisa dijadikan perumahan,” kata anak Ida. Ketika ditanya siapa pemilik lahan tersebut, warga mengaku pemiliknya sudah berganti. “Pemilik pertama bu Yeni, waktu dia pemiliknya, developer pertama mengganti rugi kerusakan di rumah saya,” kata Ida.
Anaknya menambahkan pemilik properti di atas dengan lahan baru miring sudah berbeda. “Yang di atas itu pemiliknya saya dengar ketua Gerindra,” katanya. Sejak mencuatnya kasus lahan beberapa waktu terakhir ini di Batam, warga mengatakan alat-alat berat tiba-tiba ditarik. Tetapi Kamis, 1 Mei ekskavator kembali memasuki kawasan itu.
Kepada keprionline, Heryawan, Lurah Mangsang mengatakan, “Sudah ada WTO lahan itu”. Ketika ditanya dampak banjir ke pemukiman warga, Heryawan mengatakan sudah ada kesepakatan untuk ditarik ekskavator dari lahan tersebut. “Tanya aja ke BP Batam,” kata Heryawan kepada Keprionline ketika ditanya kenapa alat berat ditarik, Kamis, 1 Mei 2025.




