Senin, 27 Juli 2026
Penyebar Informasi Tanpa Batas
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • BATAM
  • KARIMUN
  • KEPRI TANJUNGPINANG
  • BINTAN
  • PASANG IKLAN
  • Pedoman Media Siber
Penyebar Informasi Tanpa Batas
  • BATAM
  • KARIMUN
  • KEPRI TANJUNGPINANG
  • BINTAN
  • PASANG IKLAN
  • Pedoman Media Siber
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Penyebar Informasi Tanpa Batas
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
HOME BATAM KARIMUN KEPRI TANJUNGPINANG BINTAN PASANG IKLAN Pedoman Media Siber
Home SERBA - SERBI

Konflik Natuna, Memudarnya Politik Bebas-Aktif?

kepri online
21 September 2021
di SERBA - SERBI
0
Konflik Natuna, Memudarnya Politik Bebas-Aktif?

Foto: Pikiran Rakyat

Bagikan di FacebookBagikan di WhatsappBagikan di Twitter

KEPRIONLINE.CO.ID, NATUNA – Tensi persaingan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan (LTS), khususnya perairan Natuna terus meningkat seiring dengan manuver AS bersama Australia dan Inggris membentuk aliansi. Lantas, apakah politik luar negeri bebas-aktif masih relevan merespons tensi ini?

Sudah rahasia umum jika salah satu perairan Indonesia, Natuna merupakan penghasil minyak dan gas alam yang melimpah. Bahkan menurut data dari Kementerian ESDM cadangan gas terbesar Indonesia berada di Natuna, tepatnya di blok East Natuna dengan 49,87 triliun kaki kubik (TCF). Maka tidak heran apabila Natuna disebut sebagai wilayah dengan cadangan gas terbesar di Asia Pasifik.

Baca Juga

Bus Pariwisata Rombongan Jemaat Gereja Terguling di Pantai Melur Barelang, Diduga Akibat Rem Blong

Ansar dan BPKP Kepri Satu Visi, Wujudkan Pemerintahan Transparan dan Akuntabel

20 Juni 2026
11
Dugaan Selingkuh, Selegram Ayu Aulia Berkicau di Ulang Tahun Bupati Bintan

Dugaan Selingkuh, Selegram Ayu Aulia Berkicau di Ulang Tahun Bupati Bintan

3 Juni 2026
46

Potensi sumber daya alam yang melimpah tentu menjadi keuntungan bagi Indonesia. Hal ini juga terlihat dari Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi yang mengundang investor Amerika Serikat (AS) untuk berinvestasi di Kepulauan Natuna. Tawaran tersebut disampaikan kepada Menlu AS di era Donald Trump, Mike Pompeo.

Selain menawarkan kepada AS ruang untuk berinvestasi, Indonesia juga mengajak pemerintah Jepang untuk melakukan hal yang sama di Natuna. Ajakan tersebut tidak lepas dari hubungan kerja sama yang telah terjalin dengan baik antara Indonesia dengan Jepang di Natuna dalam pembangunan sentra kelautan dan perikanan.

Sektor ini berpotensi menjadi sumber ekspor yang menjanjikan bagi Tanah Air. Badan Pusat Statistik (BPS) Kepulauan Riau mencatat bahwa nilai ekspor ikan dan udang dari Kabupaten Natuna meningkat pada tahun 2019. Pada bulan September 2019 ekspor ikan dan udang dari Natuna mencapai 11.050 kg, senilai US$31.258,23. Kemudian pada bulan November 2019 meningkat menjadi 8.654 kg, senilai US$42.681,73. Dan Desember mencapai 18.554 kg, senilai US$60.499,47.

Faktor kekayaan sumber daya alam inilah yang menjadi daya tarik tersendiri dari Natuna. Maka, tidak heran jika beberapa kali terjadi polemik di perairan tersebut karena kapal milik negara asing, seperti Tiongkok menembus masuk. Padahal, jika mengacu pada Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Hukum Laut atau United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS), perairan Natuna masuk dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).

Namun, alasan Tiongkok mengklaim perairan Natuna mengacu pada sembilan garis putus-putus atau nine-dash line. Adapun, dasar pernyataan sembilan garis putus-putus ini dibuat secara sepihak oleh Tiongkok. Maka, perbedaan pandangan, tidak jarang memicu polemik sehingga terjadi gesekan antara Indonesia dengan Tiongkok perihal perairan Natuna.

Di tengah manuver Tiongkok, ternyata AS di era Joe Biden juga tidak tinggal diam. Pergerakannya di Natuna terlihat dari kesepakatan antara AS dan Indonesia untuk membangun pusat pelatihan maritim baru di wilayah Batam, Kepulauan Riau senilai US$3,5 juta atau setara Rp 50 miliar.

Pusat pelatihan yang dioperasikan oleh Badan Keamanan Laut (Bakamla) ini dilengkapi beberapa fasilitas berupa ruang kelas, barak, dan landasan peluncuran. Alhasil, Tiongkok disebut bereaksi dengan mengirim pesawat siluman 8Q dan pesawat KJ-500 Airbone Early Warning and Control (AEW&C) di lapangan terbang Fiery Cross Reef, tepatnya wilayah Kepulauan Spratly.

Fenomena ini sekaligus memperlihatkan bahwa Indonesia terus berada di dalam tekanan dua kekuatan besar yang saling ‘unjuk gigi’ di wilayah perairan Natuna. Lantas, bagaimana dampaknya terhadap Indonesia?

Security Dilemma di Perairan Natuna

Menanggapi masuknya ribuan kapal asal Tiongkok dan Vietnam di perairan Natuna, Indonesia melalui Sekretaris Utama Bakamla Laksda S. Irawan menegaskan bahwa keterbatasan sarana dan prasarana menjadi alasan yang mendasari sulitnya mengusir kapal-kapal tersebut dari perairan Natuna.

Kondisi ini tentunya berpotensi mengganggu keamanan Indonesia karena kapal milik AS juga terdeteksi berada sekitar kurang lebih 50 mil laut dari wilayah Natuna. Bahkan situasi semakin mengkhawatirkan dengan munculnya aliansi tiga negara yang meliputi Amerika Serikat, Australia, dan Inggris. Tujuan terbentuknya aliansi ini untuk membendung pengaruh Tiongkok di kawasan Laut Tiongkok Selatan (LTS).

Meski demikian, satu hal yang menjadi sorotan seiring dengan terbentuknya aliansi ini adalah rencana Amerika Serikat untuk memberikan akses teknologi kepada Australia yang berujung pada pembangunan delapan kapal selam bertenaga nuklir.

Sementara pemerintah Indonesia merespons melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dengan mengingatkan agar Australia menghormati komitmen untuk mematuhi nonproliferasi nuklir. Pada intinya, Kemlu menegaskan Australia harus memenuhi kewajiban untuk menjaga stabilitas keamanan di kawasan sesuai dengan Treaty of Amity and Cooperation.

Secara garis besar perjanjian ini membahas bahwa negara-negara yang berada di kawasan Indo Pasifik wajib untuk saling menghargai wilayah negara lain dan menjamin perdamaian kawasan. Maka melihat manuver AS bersama dengan dua negara lainnya, Australia dan Inggris, wajar jika Indonesia khawatir akan keamanan negaranya.

Terkait situasi ini, kita dapat memahami situasi di Natuna, khususnya Indonesia dan Australia tengah mengalami security dilemma. Dalam tulisan berjudul The Security Dilemma and Ethnic Conflict karya Barry R. Posen menegaskan bahwa dalam perspektif realis, sektor yang diutamakan oleh setiap negara adalah keamanan. Maka, masing-masing negara berlomba untuk meningkatkan keamanannya untuk meminimalisir ancaman yang akan datang dari negara lain.

Pada dasarnya, semua negara menginginkan kedamaian, namun dengan cara pandang anarki. Solusi untuk mewujudkannya yaitu dengan memperkuat pertahanan. Inilah awal munculnya security dilemma, yaitu negara meningkatkan keamanannya sebagai bentuk reaksi atas tindakan yang sama dari negara lainnya. Sebuah bentuk kerja sama juga dinilai sulit terjadi karena ada perasaan curiga antar satu negara dengan negara lainnya, sehingga setiap negara tidak saling percaya satu sama lain.

Dalam fenomena ini, Indonesia masih terus berpegang teguh pada prinsip politik luar negeri bebas-aktif sehingga tidak memihak kepada salah satu dua kekuatan besar, AS dan Tiongkok. Lantas apakah kebijakan politik luar negeri bebas-aktif masih relevan jika diterapkan di tengah persaingan dua negara besar di perairan Natuna?

Bebas-Aktif Masih Relevan?

Politik luar negeri bebas-aktif masih menjadi prinsip utama bagi Indonesia untuk menentukan sikap, khususnya dalam konteks isu di Laut Tiongkok Selatan. Hal ini diterapkan oleh Indonesia dengan tidak mengikrarkan diri atau secara terang-terangan memilih untuk mendukung salah satu negara antara AS atau Tiongkok. Jika saat ini Indonesia telah membangun pusat maritim bersama dengan AS, hal tersebut belum bisa disebut sebagai indikator telah memihak kepada negeri Paman Sam.

Dalam tulisan berjudul Understanding Deterrence karya Michael J. Mazarr, dijelaskan bahwa suatu negara bisa melakukan upaya untuk menekan negara lain agar tidak melakukan suatu tindakan yang sifatnya mengancam. Maka, jika mengacu pada pengertian ini, kerja sama antara Indonesia dan AS dalam membangun pusat maritim bisa dikategorikan sebagai penerapan konsep deterrence terhadap Tiongkok, khususnya di perairan Natuna. Hal ini tidak lepas dari manuver Tiongkok dengan kapal-kapalnya di perairan tersebut.

Kini persoalan lama yang berpotensi menjadi ganjalan adalah keterbatasan alutsista untuk meningkatkan pengawasan terhadap kedaulatan. Terbukti dari pernyataan Bakamla pada rapat bersama Komisi I DPR yang menegaskan bahwa pihaknya masih kekurangan sarana dan prasarana untuk melakukan patroli laut. Maka tidak heran apabila Indonesia cenderung menggunakan konsep deterrence untuk menekan negara lain karena tidak memiliki kapasitas militer yang mumpuni.

Namun, apabila Indonesia ingin meningkatkan kapabilitas militer, pemerintah bisa melihat Swiss. Negara ini memiliki prinsip netral dalam politik luar negerinya sehingga setiap mengambil kebijakan wajib mengacu pada prinsip tersebut. Dalam tulisan berjudul Swiss Neutrality yang dikeluarkan Federal Department of Defense Civil Protection and Sports (DDPS), dijelaskan bahwa netralitas yang dimaksud adalah menjunjung tinggi perdamaian, namun tetap melakukan kerja sama militer dengan negara lain. Hingga saat ini, prinsip tersebut masih dipegang teguh oleh pemerintah Swiss.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apakah negara ini mampu bertahan dengan politik luar negeri bebas-aktif di tengah persaingan dua negara? Menarik untuk terus diikuti penerapan politik luar negeri bebas-aktif di kawasan Laut Tiongkok Selatan, khususnya perairan Natuna. (pinterpolitik.com)

Tags: Konflik NatunaPolitik Bebas AktifTensi persaingan antara Amerika Serikat dan Chinationgkok
Sebelumnya

Kondisi Migas RI di Natuna di Tengah Serbuan Kapal China

Berikutnya

Kasus Anak di Bawah Umur Tanjung Pinang, Bermula dari Tolak Ajakan Ngelem

Berita Terkait

Bus Pariwisata Rombongan Jemaat Gereja Terguling di Pantai Melur Barelang, Diduga Akibat Rem Blong
SERBA - SERBI

Ansar dan BPKP Kepri Satu Visi, Wujudkan Pemerintahan Transparan dan Akuntabel

20 Juni 2026
11
Dugaan Selingkuh, Selegram Ayu Aulia Berkicau di Ulang Tahun Bupati Bintan
SERBA - SERBI

Dugaan Selingkuh, Selegram Ayu Aulia Berkicau di Ulang Tahun Bupati Bintan

3 Juni 2026
46
GAMKI Batam Gelar Nobar dan Diskusi Film Pesta Babi, Soroti Keadilan Ekologi dan Nasib Masyarakat Adat Papua
BATAM

GAMKI Batam Gelar Nobar dan Diskusi Film Pesta Babi, Soroti Keadilan Ekologi dan Nasib Masyarakat Adat Papua

17 Mei 2026
48

TV KEPRIONLINE

https://www.youtube.com/watch?v=RmUtzkMvAog

Berita Populer

  • TNI AL Gagalkan Penyeludupan Pasir Timah Seberat 1,9 Ton, Lima  Orang Diamankan

    TNI AL Gagalkan Penyeludupan Pasir Timah Seberat 1,9 Ton, Lima Orang Diamankan

    0 dibagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • BPK Temukan Realisasi Belanja ASN di 14 OPD Karimun Tidak Sesuai Ketentuan

    0 dibagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Ini Fitnah, PT MPK Diminta Membuktikan Dugaan Pemerasan yang Dilakukan Oleh Kadishub Karimun

    0 dibagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Carolein Parewang Terdakwa Kasus Penggelapan Mobil Rental Pukul Ponsel Wartawan

    0 dibagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Bupati Karimun Harap Proyek FPSO Bahtera Haluan Lestari Serap Ribuan Tenaga Kerja Lokal

    0 dibagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Beredar Video Workshop PT VME di Terjang Angin Puting Beliung

    0 dibagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Perjuangan Seorang Ibu Sampai ke Mahkamah Agung, Berharap Negara Buka Mata Berikan Keadilan

    0 dibagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Viral ! Videon Bidan PNS Mesum di Dalam Mobil 

    0 dibagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kecam Tindakan Intimidasi terhadap Wartawan di Pengadilan, PWI Kepri Desak Evaluasi SOP Pengawalan Tahanan

    0 dibagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Trestel Pelabuhan Tanjung Batu Ambruk

    0 dibagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Penyebar Informasi Tanpa Batas

Alamat Redaksi :

Jln. Raja Oesman Kel Harjosari
Kecamatan Tebing, Kabupaten Karimun
Provinsi Kepulauan Riau
Telepon : 0777 7363866

Hubungi Kami :

PT.EMWIL SERIBU LINTAS MEDIA
info@keprionline.co.id

  • #14456 (tanpa judul)
  • Disclaimer
  • PASANG IKLAN
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
  • Susunan Redaksi keprioline.co.id
  • Tentang Kami
  • Terms-and Conditions

© 2020 Kepri Online - PT.EMWIL SERIBU LINTAS MEDIA - All Right Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • #14456 (tanpa judul)
  • Disclaimer
  • PASANG IKLAN
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
  • Susunan Redaksi keprioline.co.id
  • Tentang Kami
  • Terms-and Conditions

© 2020 Kepri Online - PT.EMWIL SERIBU LINTAS MEDIA - All Right Reserved.