Keprionline.co.id, BATAM – Keberadaan aset milik Ikatan Seni dan Budaya Batak (ISENABASA) Kota Batam kembali menjadi perhatian sejumlah tokoh dan masyarakat Batak di Kota Batam. Organisasi yang menaungi lima subetnis Batak, yakni Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, serta Mandailing-Angkola, diketahui memiliki lahan sekitar dua hektare di kawasan Batam Center yang hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal.
ISENABASA Kota Batam berdiri sekitar awal tahun 2000-an. Pada masa awal pembentukannya, organisasi ini berbentuk yayasan yang dipimpin oleh Ketua John Kennedy Aritonang dan Sekretaris Sabar Malau. Adapun para pendiri berasal dari perwakilan lima subetnis Batak, di antaranya Benny Panjaitan, Ivan Siregar, Gembira Ginting, Rustam Bangun, Nutrin Sihaloho, dan sejumlah tokoh lainnya.
Sekitar tahun 2002, ISENABASA memperoleh alokasi lahan dari BP Batam seluas kurang lebih 3,5 hektare di kawasan Batam Center, tepatnya di sekitar Perumahan Puri Legenda dan Perumahan Bida Asri I. Lahan tersebut direncanakan menjadi pusat kegiatan dan kebudayaan masyarakat Batak di Kota Batam.
Namun dalam perjalanannya, organisasi menghadapi berbagai tantangan, baik dari sisi finansial maupun internal. Sebagian lahan akhirnya dilepas untuk memenuhi kewajiban pembayaran Uang Wajib Tahunan Otorita (UWTO) serta mendukung pembangunan sarana fisik organisasi.
Pada sekitar tahun 2011, pembangunan gedung pertemuan berukuran sekitar 50 meter x 40 meter mulai dilaksanakan dengan anggaran mencapai Rp1,8 miliar. Akan tetapi, pembangunan terhenti ketika kondisi bangunan masih setengah jadi akibat keterbatasan dana. Hingga kini, bangunan tersebut masih terbengkalai dan belum dapat dimanfaatkan sebagaimana tujuan awal pembangunannya.
Di tengah kondisi tersebut, muncul informasi bahwa struktur Yayasan ISENABASA telah mengalami perubahan. Organ yayasan yang terdiri dari Pembina, Pengurus, dan Pengawas disebut telah berganti dari susunan awal. Sejumlah pihak menyayangkan karena keterwakilan lima subetnis Batak yang sebelumnya menjadi dasar pendirian organisasi dinilai tidak lagi terlihat secara utuh dalam struktur yayasan saat ini.
Masyarakat dan tokoh Batak berharap para pendiri serta sesepuh yang masih ada dapat kembali berkumpul untuk mencari solusi terbaik terhadap masa depan aset dan organisasi tersebut. Harapan itu semakin penting mengingat sebagian pendiri telah meninggal dunia, sementara yang masih hidup umumnya telah memasuki usia lanjut.
Para sesepuh diharapkan dapat meninggalkan warisan dan legasi yang baik bagi generasi muda Batak di Kota Batam, sehingga aset yang telah diperjuangkan bersama dapat kembali memberikan manfaat bagi masyarakat serta menjadi pusat kegiatan budaya dan kebersamaan lintas subetnis Batak di masa mendatang. (Oky)






