Keprionline.co.id, Batam – Bentrok yang terjadi di Jembatan 4 Barelang bermula saat tim terpadu yakni BP Batam, Pemkot Batam, TNI dan Polri datang ke Rempang untuk pengukuran tata batas hutan. Namun, masyarakat membuat barikade.
Tim terpadu telah mengimbau masyarakat agar tidak melakukan hal itu. Namun, masyarakat itu tidak mengindahkannya. Akhirnya, ditembakkan gas air mata untuk mengurai massa.
Kepala Kepolisian Resor Kota (Kapolresta) Barelang, Kombes Pol Nugroho Tri Nuryanto memita maaf atas insiden asap gas air mata yang masuk ke SD Negeri 024 Galang dan SMP Negeri 22 Batam di Pulau Rempang, Kecamatan Galang.
“Di sisi lain, waktu bentrok dan penembakan gas air mata itu bertepatan dengan jam belajar siswa sekitar. Karena itu (sekolah) letaknya dekat Jembatan 4, jadi asap ke sekolah Alhasil, sejumlah siswa pun menjadi korban. Bahkan beberapa di antaranya harus mendapatkan perawatan medis. Kami aparat kemananan, tim terpadu mohon maaf,” kata Nugroho, Kamis (08/09/2023).
Ia menilai aparat sudah bertindak sesuai prosedur dengan mengedepankan tim Satpol PP terlebih dahulu dan mengimbau agar tak melakukan tindakan anarkis.
Dari data yang diterima, total ada 10 peserta didik dan satu guru di SMP Negeri 22 Batam yang terkena gas air mata.
Sementara itu Kepala Bidang Humas Polda Kepri Komisaris Besar Zahwani Pandra Arsyad mengatakan anak-anak sekolah ikut terkena gas air mata yang terbawa angin.
Ia mengatakan lokasi sekolah tersebut berbatasan dengan tempat para warga yang menolak berkumpul.
“Gas air mata tidak mungkin diarahkan ke sekolah tapi ke kerumunan,” kata Pandra kepada media.
Namun karena tertiup angin, asap gas air mata terkena siswa. Pandra mengatakan pelepasan gas air mata juga sudah sesuai prosedur karena warga melempari petugas dengan batu. (Gordon)






