Keprionline.co.id, BATAM – Kisruh gagalnya keberangkatan sebagian kontingen Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Kepulauan Riau menuju Pesparawi Nasional XIV di Manokwari, Papua Barat, terus menuai sorotan. Pendiri Rumpun Melanesia Bersatu Kepulauan Riau sekaligus tokoh masyarakat Indonesia Timur di Batam, Moody Arnold Timisela, meminta Ketua Panitia Kumaha Nadeak beserta jajaran penyelenggara bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Menurut Moody, batalnya keberangkatan puluhan peserta tidak dapat dipandang sebagai persoalan administrasi semata. Ia menilai kejadian tersebut menunjukkan lemahnya tata kelola penyelenggaraan kegiatan yang seharusnya telah dipersiapkan jauh hari sebelum pelaksanaan.
“Pesparawi adalah kegiatan nasional yang sudah terjadwal. Persiapan peserta membutuhkan waktu yang panjang, latihan dilakukan dengan sungguh-sungguh demi bisa tampil membawa nama Kepulauan Riau di tingkat nasional. Seharusnya kegiatan seperti ini didukung penuh dan dipersiapkan secara profesional,” kata Moody, Sabtu (5/7/2026).
Ia mengatakan, para peserta telah mengorbankan waktu, tenaga, dan berbagai aktivitas pribadi selama berbulan-bulan untuk mempersiapkan diri mengikuti ajang nasional tersebut. Namun, seluruh perjuangan itu berakhir sia-sia ketika mereka gagal melanjutkan perjalanan dari Jakarta menuju Manokwari akibat persoalan tiket penerbangan.
Moody mempertanyakan mengapa persoalan administrasi perjalanan masih terjadi hingga menghambat keberangkatan peserta.
“Kenapa tiket tidak diurus dengan baik? Kenapa harus terjadi seperti ini sampai keberangkatan dibatalkan dan peserta hanya sampai Jakarta? Ini sangat kami sesalkan karena perwakilan Kepulauan Riau akhirnya tidak bisa mengikuti ajang nasional,” ujarnya.
Menurutnya, sebagai penanggung jawab utama penyelenggaraan, panitia berkewajiban memastikan seluruh kebutuhan teknis, termasuk pengadaan tiket, administrasi perjalanan, hingga keberangkatan peserta, telah diselesaikan sebelum hari pelaksanaan.
Ia menegaskan, yang hilang dalam peristiwa tersebut bukan hanya tiket pesawat atau biaya perjalanan, melainkan juga harapan para peserta yang telah berlatih secara intensif demi membawa nama baik Kepulauan Riau di tingkat nasional.
“Yang hilang bukan sekadar keberangkatan. Ada impian, semangat, pengorbanan, dan nama baik daerah yang ikut menjadi korban. Rasa kecewa para peserta tentu tidak bisa diukur hanya dengan persoalan administrasi karena mereka sudah mempersiapkan diri dengan sepenuh hati untuk memberikan yang terbaik bagi Kepulauan Riau,” katanya.
Moody berharap kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi menyeluruh agar pelaksanaan kegiatan berskala nasional ke depan dipersiapkan secara lebih matang, dengan koordinasi, pengawasan, dan pengendalian yang lebih baik.
Selain itu, ia juga mendukung langkah aparat kepolisian yang tengah mengusut kasus tersebut. Menurutnya, proses hukum perlu berjalan secara objektif dan transparan agar penyebab gagalnya keberangkatan kontingen dapat terungkap, sekaligus menentukan pihak yang harus bertanggung jawab.
Diketahui, sebanyak 27 peserta kategori Paduan Suara Wanita (PSW) kontingen Pesparawi Kepulauan Riau gagal berangkat ke Manokwari setelah mengalami kendala tiket penerbangan lanjutan dari Jakarta. Akibatnya, mereka kehilangan kesempatan tampil pada Pesparawi Nasional XIV meski telah menjalani latihan selama berbulan-bulan.
Saat ini, perkara tersebut telah ditangani Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Kepulauan Riau. Penyidik telah meningkatkan status penanganan perkara ke tahap penyidikan setelah menemukan dugaan tindak pidana dan memeriksa sejumlah saksi. Proses hukum masih terus berlangsung untuk mengungkap fakta-fakta dalam kasus tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, Ketua Panitia Pesparawi Kepulauan Riau, Kumaha Nadeak, belum memberikan tanggapan terkait pernyataan Moody Arnold Timisela. Redaksi akan memuat penjelasan atau klarifikasi dari pihak panitia apabila telah diperoleh sebagai bagian dari prinsip keberimbangan pemberitaan. (Oky)
