Jejak Gelap Edy Sofyan Sebelum Tangkap KPK

KEPRIONLINE.CO.ID,KEPRI – Kadis Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri ),Edy Sofyan sosok pria yang mengantarkan uang dugaan suap kepada Gubernur Kepulauan Riau Nurdin Basirun yang diterima dari salah satu pengusaha yang berujung penjemputan anggota KPK beberapa waktu lalu .

Sosok Edy Sofian tidak asing lagi di mata publik karena terkesan lihai dan licin,Setelah 26 Tahun menikah dan dikarunia tiga orang anak Edy Sofian resmi menceraikan istri pertamanya di Pengadilan Negeri Agama Sekupang Batam, Rabu ( 16 / 11 / 2016 ) yang silam.

Perceraian ini dipicu oleh hadirnya orang ketiga ditengah – tengah keluarga Edy Sofian dan aksi bejat sang pejabat teras Provinsi Kepulauan Riau sempat menjadi soroton media Radar Kepri,Saat itu BKD mengaku tidak tahu atau pura-pura tidak tahu kelakuan bejat Edy Sofian yang dilaporkan isitrinya. Saat itu, beredar kabar, untuk menutup kasusnya perselingkuhannya di BKD Kepri, Edy Sofian dikabarkan atau diduga menebar amplop berisi uang dolar Singapura.”Jumlah bervariasi, ada 10 ribu dolar, ada 8 ribu dolar.”sebut sumber radarkepri.com.

Haslinya ? Skandal bejat pejabat ini tak pernah diberi sanksi. Buktinya, hingga ditangkap pada 10 Juli 2019 lalu, Edy Sofian masih menjabat Kadis Kelautan Perikanan.
Gubernur Kepri, Nurdin Basirun pun ternyata masih nyaman memakai jasa Edy Sofian meskipun secara moral sudah cacat.

Bukan hanya skandal mesum melilit Edy Sofian,kasus dugaan korupsi juga menjeratnya, Contohnya, proyek pengadaan 18 unit kapal penangkap ikan tahun anggaran 2018 lalu di Lingga, hingga hari ini, pompong untuk nelayan tradisional tak kunjung sampai.

Kemudian, dalam proyek monumen bahasa di pulau Penyengat yang diusut Direskrimsus Polda Kepri. Nama Edy Sofian kembali mencuat, kadis “sakti” ini bahkan telah diperiksa penyidik Polda Kepri di Satreskrim Polres Tanjungpinang. Namun belum diketahui peran Edy Sofian dalam kasus yang telah ditingkatkan ke tahap penyidikan ini.

Petualangan kelam sang Kadis berakhir sudah, Kamis (12/07) KPK resmi memakaikan rompi orange dan menjebloskannya ke penjara. Tapi Edy Sofian tak ingin sendiri, tuannya (Nurdin Basirun) dan anak buahnya (Budi Hartono) serta sumber uangnya (Abu Bakar) ikut dibawanya ke penjara.

Seandainya Nurdin mencopot Edy Sofian sejak skandal mesumnya diungkap ke publik, mungkin saja Nurdin tidak akan terperosok bersama Edy Sofian. Saat ini, Nurdin memiliki waktu yang lebih lama untuk merenung dan memikirkan, mana kawan dan mana yang menjerumuskannya (musuh).

Semoga kasus OTT Gubernur Kepri ini menjadi pelajaran berharga bagi kepala daerah lain di Kepri ini. Pasalnya, modus upeti ketika kepala daerah dinas luar sudah mendarah daging di Kepri ini. Sudah jadi rahasia umum, jika seorang kepala daerah (Walikota atau Bupati) “berangkat”, kepala dinas memberikan sejumlah uang, mulai dari Rp 10 juta hingga Rp 25 juta tergantung dinasnya.

Nurdin hanya lagi apes, terciduk KPK. Namun kepala daerah lain mungkin sedang beruntung, apa lagi yang hoby pelesiran ke negeri jiran, Singapura dan Malaysia untuk hura-hura. Semoga KPK semakin intens menyoroti para Bupati dan Walikota di Kepri ini agar menambah daftar panjang kepala daerah terciduk lembaga anti rasuah ini.( SUMBER RADAR KEPRI / RED KEPRIONLINE /  Keterangan foto Ilustrasi Net  ).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *