Situs Cagar Budaya Tua di Tanjung Pinang Yang Terkenal

KEPRIONLINE. CO. ID, TANJUNGPINANG ~ Kerkhoff (Kuburan Belanda) yang berlokasi di Jalan Kamboja-Tanjung Pinang merupakan situs sejarah peninggalan zaman Belanda yang bernilai sejarah tinggi dan kelestariannya masih terjaga dengan baik. Sekitar 120 makam ada dalam Kerkhoff seluas 1 Ha ini.

Menurut warga yang tinggal di sekitar Kerkhoff, Pemerintah Kota Tanjung Pinang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sudah mempromosikan situs tersebut dan juga merawatnya dengan baik.

“Pemerintah sekarang ini sangat memperhatikan situs ini. Sekarang sudah lebih baik dan terawat. Walaupun memang sudah banyak bagian dari kuburan itu rusak karena dimakan usia maupun faktor alam. Sekarang kerkhoff ini sudah sering dikunjungi oleh pengunjung baik lokal maupun manca negara,” kata Hebben (45) warga Jalan Kamboja-Tanjung Pinang kepada keprionline.co.id.(25/10)

Sementara hal senada juga diungkapkan petugas kebersihan di kawasan kerkhoff, Asep (47 thn), Pengelolaan dan perawatan situs sejarah kuburan Belanda ini sudah lebih baik dibanding beberapa waktu lalu. Pria asal Tangerang berdarah campuran sunda-bugis ini mengatakan”Situs ini sudah lebih terawat. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Tanjung Pinang sudah lebih memperhatikannya. Promosi nya juga sudah semakin digalakkan. Beberapa waktu lalu ada juga pengunjung asal Belanda yang datang ke sini. Mungki. Mereka ingin melihat situs sejarah leluhurnya,” katanya.

Sementara menurut pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Tanjung Pinang mengatakan bahwa Pemerintah Kota Tanjung Pinang saat ini sangat concern dengan situs cagar budaya kerkhoff ini. Salah seorang staff Bidang Cagar Budaya yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan,”Saat ini Kerkhoff sudah masuk dalam agenda kami untuk mempromosikannya agar lebih dikenal lagi. Perawatan kelestariannya juga sudah lebih baik. Situs ini dilindungi oleh undang-undang No. 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya,” katanya.

Situs Kuburan Belanda (Kerkhoff) ini diharapkan dapat menjadi bahan ajar dan pendidikan sejarah bagi yang membutuhkan dan juga dapat memperkaya khazanah budaya di Tanjung Pinang. (KEPRIONLINE/TANJUNG PINANG/GIBSON MANURUNG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *