Ratusan Prajurit TNI AL Wilayah Tanjung Uban Disuntik Vaksin Difteri

KEPRIONLINE.CO.ID , BINTAN – Sebagai upaya preventif untuk memutus rantai penularan bahaya penyakit difteri di lingkungan prajurit, sekitar 239 personel TNI AL di Tanjung Uban baik prajurit dan PNS mengikuti kegiatan Vaksinasi Difteri yang berlangsung di gedung serbaguna Fasharkan Mentigi, Rabu (28/3/2018).
Kegiatan suntik vaksin ini sebelumnya telah dilaksanakan secara serentak di lingkungan TNI AL termasuk Koarmabar. Sedangkan Satuan Kapal Cepat, Satuan Kapal Ranjau dan Fasharkan Mentigi baru melaksanakannya kali ini sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan dari Dinas Kesehatan (Diskes) Koarmabar.

Vaksin difteri ini diikuti Dansatkatarmabar Kol. Laut (P) I.G Putu Alit Jaya, S.H.,M.Si dan Dansatranarmabar Kol. Laut (P) Dodi Agus Prasetyo, S.Pi.,M.AP. dan para perwira lainnya baik staf maupun unsur KRI.

Kadiskesarmabar Kolonel Laut (K) dr. Dwi Adang Iskandar, Sp.B, yang memimpin tim diskes Koarmabar yang hadir di Tanjung Uban menjelaskan secara singkat apa itu penyakit difteri, vaksin dan penanganannya.

“Difteri merupakan penyakit infeksi pernapasan akut berbahaya yang sangat menular. Penyebaran difteri ini sangat cepat, karena kuman difteri bisa berpindah dengan mudah melalui udara dari satu penderita kepada orang lain di dekatnya,ā€ katanya kepada keprionline.co.id.

“Penyakit difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae yang dapat menghasilkan racun bernama eksotoksin. Racun inilah yang sangat berbahaya karena ia dapat merusak dan mematikan sel-sel sehat.

Eksotoksin juga dapat menyerang organ-organ lainnya seperti jantung, sistem pernapasan, ginjal, dan sistem saraf. Difteri menular melalui droplet, yakni sekret lendir seperti ludah, dahak, cairan yang bertebaran di udara saat penderita batuk, bersin, atau tertawa dan kemudian terhirup oleh orang lain,” tambahnya.

“Adapun beberapa gejala difteri yang dapat dikenali,” lanjutnya, “di antaranya seperti sakit tenggorokan, muncul selaput berwarna putih abu-abu pada tenggrokan, amandel, rongga mulut, atau hidung, dan demam tidak terlalu tinggi. Selain itu muncul pula tanda pembengkakan pada kelenjar limfa, bisa dilihat dari leher yang membengkak (bull neck), suara berubah, Lemas dan menurunnya nafsu makan, mengeluarkan bunyi saat menarik napas (stridor) hingga sulit bernapas,” tambahnya.

Lebih Lanjut Kadiskesarmabar menjelaskan,” Gejala paling khas dari penyakit difteri adalah sakit tenggorokan yang disusul dengan munculnya selaput berwarna putih abu-abu yang bernama selaput pseudomembran,” pungkasnya.

Diharapkan dengan diberikannya vaksin ini dapat mengurangi penyebaran virus difteri di lingkungan prajurit Koarmabar.
( KEPRIONLINE/BINTAN/MANURUNG ).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *