BISNISKEPRI

Ketua Kadin Prov Kepri , Naikkan Ekonomi Kepri Stakeholder Cukup Turunkan Sewa

KEPRIONLINE.CO.ID , KEPRI – Ketua Kamar Dagang dan Idustri (Kadin) Provisi Kepulauan Riau, Ahmad Maruf Maulana, menghimbau para stakeholder di Provinsi Kepulauan Riau agar menurunkan sewa pada usaha yang dikelola masing-masing. Himbauan itu dimaksudkan untuk mengembalikan pertumbuhan ekonomi Kepri yang menurun drastis bahkan masuk dalam urutan 33 dari 34 provinsi di Indonesia.

Sebagaimana data yang dirilis BPS, Ekonomi Kepri triwulan pertama 2017 hanya tumbuh 2,02 persen menempatkan Kepri urutan terendah kedua di Indonesia, bahkan jika dibandingkan dengan seluruh provinsi di Sumatera, Kepri merupakan terendah pertama.

Salah satu langkah mengembalikan pertumbuhan ekonomi Kepri adalah semua pihak bekerjasama menurunka sewa atau memberikan diskon minimal dalam satu tahun kedepan. Pengelola Mall, hotel, jasa transportasi darar, laut dan udara, kawasan industri, industri pariwisata, sampai biro jasa agar menurunkan tarif sewa agar para pengusaha bisa terus berusaha dan ekonomi kembali berjalan normal.”Kadin menghimbau semua stakeholder agar menurunkan sewa agar para tenant tidak tutup,” himbau Maulana.

Ketua Kadin meminta partisipasi semua pihak agak pada kondisi sulit ini semua pihak berpartisipasi. Tahun-tahun sebelumnya tentu pengusaha sudah pernah menikmati keuntungan dari kondisi ekonomi yang tumbuh tinggi, saat ini waktunya membalas dengan memberikan diskon atau sewa murah agar ekonomi pulih.

Menurut Ketua Kadin, disaat siituasi sulit saat ini, kebijakan menaikkan sewa tidaklah tepat, tetapi lebih baik menurunkan sewa atau memberikan diskon, dengan tetap memperhitungkan besaran tagihan listrik dan air yang memang harus dibayar.

“Kadin meminta agar komponen sewanya saja yang diturunkan, para stakeholder saya yakin siap membantu agar roda ekonomi berputar lagi” terang Maulana.
Target yang ingin dicapai dengan penurunan sewa menurut Maulana adalah menjaga agar pelaku usaha tetap eksis minimal bisa menutup biaya operasional sehingga tidak terjadi Pemutusan Hubungan Kerja.

“Sekarang biarlah pengusaha yang berinisiatif membantu pemulihan ekonomi, kita harap Pemerntah provinsi dan Pemerintah Kota Batam juga menciptakan terobosan untuk bahu membahu mengatasi kesulitan eonomi Kepri saat ini,” pinta Maulana.

Maulana menyampaikan keprihatinannya atas kondisi ekonomi saat ini, sejumlah tenant di mall atau hotel sampai kawasan industri, galangan kapal dan usaha jasa mulai tutup karena tidak mampu membayar sewa disatu sisi omset semakin menurun atau order yang terus berkurang. Daya beli konsumen juga makin menurun. Kondisi ekonomi Kepri saat ini menjadi isu yang hangat dibahas kalangan pengusaha, bahkan masalah ini menjadi salah satu bahasan serius para pengusaha pada Rapat Pimpinan Kadin Kepri yang akan digelar 28 Agustus 2017 di Karimun.”Para rapim kadin kita akan minta masukan dan solusi dari para pengusaha agar segera bangkit kembali,” paparnya.

Pengalaman diberbagai negara menurut Maulana, ketika terjadi krisis ekonomi, maka berbagai fasilitas dan kemudahan diberikan kepada pelaku usaha agar tetap bisa eksis, bahkan di Amerika Serikat saja ketika perusahaan terancam bangkrut beberaa tahun lalu, pemerintah Amerika memberikan bailout.Tujuannya hanya satu, agar jangan sampai tutup, karena jika terjadi penutupan, dampaknya makin lebih luas.

Tentu saja Kepri tidak perlu sampai sebesar itu keterlibatan pemerintah, paling tidak menjaga kondisi ekonomi tetap kondusif, termasuk mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi dunia usaha agar dalam jangka tidak terlalu lama, bisa mengembalikan angka pertumbuhan ekonomi Kepri diatas 7 persen. Penurunan ekonomi Kepri tidak boleh dibiarkan, pertumbuhan ekonomi Kepri menurut Maulana sudah selayaknya lebih tinggi dari provinsi lain karena di Kepri ada berbagai fasilitas yang tidak diperoleh daerah lain, misalnya fasilitas FTZ yang diperoleh daerah Batam, Bintan dan Karimun.

“Para pengelola kawasan FTZ harus berpikir lebih keras, agar tidak fokus pada kenaikan tarif tetapi memberikan isentif bagi dunia usaha agar bisa bergairah kembali,” ujarnya.Adalah hal yang sangat menyedikan kata Maualana, ketika punya banyak fasilitas, punya letak geografis yang strategis, tetapi justru ekonominya tumbuh rendah.
BP Batam sebagai pemegang kendali utama pembangunan ekonomi dan industri harus berpikir keras agar ekonomi Batam bisa berkembang, bukan sebaliknya malah sibuk dengan aturan-aturan baru yang sering kontradiktif dengan kebutuhan dunia usaha saat ini. beberpaa contoh nyata menurut Maulana adalah justru kenaikan tarif UWTO, sewa jasa pelabuhan dan bandara. “keputusan seperti itu justru tidak mendukung kebangkitan ekonomi Batam,” tegasnya. ( KO / RED / Gibson manurung / Kadin / KEPRI ) .

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close