Pengolahan Sampah Dengan Metode Yang Benar Memungkinkan “Garbage In Money Out

KEPRIONLINE,TANJUNGPINANG – Sampah adalah salah satu masalah pelik yang selalu melanda perkotaan di Indonesia, tidak terkecuali kota Tanjungpinang. Volume sampah terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan pemukiman serta keterbatasan lahan untuk pembuangan akhir.

Berbagai sumber sampah yang memiliki kontribusi terhadap timbulnya sampah kota antara lain berasal dari pemukiman, pasar, layanan kesehatan dan fasilitas umum. Sampah tersebut terdiri dari sampah organik dan non organik. Kalau sampah ini tidak dikelola dengan baik, maka akan menimbulkan masalah besar bagi warga. Sampah akan menjadi sumber penyakit dan kualitas udara kota akan tercemar akibat aroma busuk dari sampah. Selain itu sampah dapat menimbulkan kesan kumuh dan kotor.

Pengelolaan sampah di Tanjungpinang juga masih menggunakan paradigma lama, yaitu cara “Kumpul-Angkut-Buang”. Source Reduction (Reduksi Dari Sumbernya) dan memilah sampah belum berjalan dengan baik.

Masalah ini mulai dibenahi oleh warga yang sadar akan pentingnya pengelolaan sampah. Di salah satu sudut kota Tanjungpinang tepatnya di Kelurahan Tanjung Unggat, TPS (Tempat Pengolahan Sampah) 3R sudah mulai mengelola sampah dengan baik. Dengan bantuan mesin Chopper (Pencacah) sampah dan metode pembusukan sampah yang baik dan benar mampu menghasilkan kompos bermutu tinggi seberat 450 kg per 25 hari.

Hal itu dijelaskan oleh operator mesin Chopper, Agus (52 Thn) kepada keprionline.co.id saat ditemui di TPS 3 R  Tanjung Unggat, Kamis Pagi, (08/03/2018)

“Dengan mesin Chopper 14 HP (Horse Power) bantuan dari Dinas Lingkungan Hidup ini, kami mampu menghasilkan kompos hampir setengah ton per dua puluh lima hari. Sebelumnya sampah uang masih kita pilah dulu. Sampah yang kita ambil adalah sampah organik. Sampah organik ini kita masukkan dalam bak 1. Kita padatkan dan diberi larutan gula dan EM4 (Efective Micro Organism) yang mempercepat proses pembusukan. Selama 30 hari tumpukan ini kita bolak-balik. Setelah itu kita masukkan ke bak 2.

Di bak 2 ini juga tumpukan sampah tadi dibiarkan selama 30 hari dan dibolak-balik. Setelah itu baru kita cacah dengan mesin pencacah dan diayak. Proses terakhir, kompos yangsudah diayak dapat dicampur dengan tanah hitam dengan perbandingan 1:3. Kemudian kita kemas dan dijual,” katanya.

Kompos yang dihasilkan ini dijual Rp. 10.000,-/kemasan 10 Kg. Hal ini sangat bernilai ekonomi tinggi. Dan jika ditingkatkan tidak tertutup kemungkinan akan mampu menaikkan ekonomi warga sekitarnya yang ikut mengelola sampah tersebut dengan baik.

Lurah Tanjung Unggat, Said Fatahullah, S. Sos juga mengungkapkan rasa gembiranya dengan berjalannya pengolahan sampah di TPS 3 R ini.

“Kita sangat gembira pengolahan sampah ini berjalan dengan baik. Selain membantu menuntaskan masalah sampah, juga mampu menghasilkan uang. Memang selama ini hasil penjualan kompos tersebut masih dipergunakan untuk operasional mesin dan alat pengolahan lain. Namun ke depan semoga bisa kita tingkatkan lagi hasilnya,” katanya.

Yah, Pengolahan sampah dengan metode ini harus didukung oleh seluruh masyarakat Tanjungpinang. Karena bagaimanapun, keberhasilan penanganan sampah di Tanjungpinang juga harus didukung oleh tingkat kesadaran masyarakat yang tinggi mengingat perilaku masyarakat merupakan variabel penting. Go Clean, Tanjungpinang. Garbage in, Money Out. ( KEPRIONLINE/TANJUNGPINANG/MANURUNG ).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *